Peranan Bahasa Daerah dalam Persatuan Bangsa

Posted: September 8, 2008 in Artikelku

PERANAN BAHASA DAERAH DALAM PERSATUAN BANGSA

Oleh: Asef F. Amani

 

Bersamaan dengan hilangnya bahasa-bahasa daerah,

 kearifan lokal atau kearifan tradisional yang tersimpan

dalam tradisi lisan juga tidak dapat diselamatkan

(Sutarto 2001)

 

             Seegoisnya manusia atau seindividualisnya manusia, tetap saja manusia itu membutuhkan komunikasi dengan manusia lain. Manusia hidup tanpa komunikasi ibarat hidup tersendiri di tengah Padang Sahara atau di tengah hutan Kalimantan, terasa sepi dan hampa. Bahkan, orang yang abnormal pun membutuhkan komunikasi dengan lingkungannya, dengan orang-orang di sekitarnya ataupun dengan apapun yang ia temui.

            Bahasa adalah alat yang ampuh bagi manusia dalam berhubungan dengan sesuatu di luar dirinya. Dengan bahasa, manusia mampu beradaptasi dengan lingkungannya, dengan orang-orang di sekitarnya, dan dengan apapun bahkan dengan hewan sekalipun, bahasa memerankan peran yang penting bagi kehidupan manusia.

            Bahasa yang kita kenal selama ini terdiri dari dua ajenis, yaitu bahasa lisan dan tulisan. Padahal di alam raya ini tidak hanya lisan dan tulisan saja yang ada, tapi juga ada bahasa alam, bahasa hewan, bahasa isyarat, bahasa tubuh, dan bahasa-bahasa yang lain. Mengapa terdapat bahasa alam dan bahasa hewan, karena ternyata alam dan hewan juga terkadang memberikan informasi kepada kita tentang sesuatu hal. Misalnya, angin yang berhembus kencang memberi isyarat kepada kita akan terjadi angin ribut, angin puting beliung, bahkan badai. Awan hitam yang menyelimuti langit menandakan akan turun hujan. Hal ini pun merupakan bahasa alam yang disampaikan dengan tanda-tanda, karena pada hakekatnya bahasa adalah sistem tanda.

            Bahasa alam juga yang digunakan oleh para nelayan untuk menentukan arah letak dari daratan ketika mereka berada di lautan, yaitu dengan melihat rasi bintang. Hanya saja, berbeda antara bahasa yang digunakan manusia, alam, tumbuhan, dan hewan. Menurut H. G. Tarigan (dalam Hidayat 2006: 24-25), dalam bahasa manusia, hubungan antara simbol dan “sesuatu” yang dilambangkannya itu tidaklah merupakan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya atau sesuatu yang bersifat alamiah, seperti yang terdapat antara awan hitam dan turunnya hujan, ataupun antara tingginya panas badan dan kemungkinan terjadinya infeksi. Simbol atau lambang memperoleh fungsi khususnya dari konsensus atau mufakat kelompok atau konvensi sosial, dan tidak mempunai efek apa pun bagi setiap orang yang tidak mengenal konsensus tersebut.

            Bahasa menurut teori struktural, dapat didefinisikan sebagai suatu sistem tanda arbitrer yang konvensional (Soeparno 2002: 1). Artinya, bahasa memiliki ciri arbitrer dan konvensional. Ciri arbitrer, yakni hubungan yang sifatnya semena-semena antara signifie dan signifiant atau antara makna dan bentuk. Kesemena-menaan ini dibatasi oleh kesepakatan antar-penutur. Oleh sebab itu, bahasa juga memiliki ciri konvensional (kesepakatan) (Soeparno 2002: 2).

            Hal senada juga diberikan oleh Harimurti (dalam Hidayat 2006: 22), bahwa batasan bahasa adalah sebagai sistem lambang arbitrer yang dipergunakan suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri.

            Dari dua pengertian yang disampaikan di atas, dapat disimpulkan bahwasanya bahasa adalah sistem tanda yang arbitrer. Sifat kearbitreran bahasa ditentukan oleh konvensi di mana bahasa tersebut digunakan. Jadi, antara tempat yang satu dan tempat yang lain bisa berbeda-beda dalam menentukan konvensi suatu bahasa. Itulah kekhasan dari bahasa yang digunakan oleh manusia dibandingkan dengan bahasa-bahasa yang lain (alam, hewan, tumbuhan, dan lainnya).

 

Bahasa Daerah dan Bahasa Nasional

            Dikatakan sebagai pertentangan juga bisa, tapi dikatakan sebagai persatuan juga bisa. Hal ini dikarenakan bahasa daerah dan bahasa nasional hidup dalam satu wadah dan berkembangnya pun dalam satu wadah, yaitu Bangsa Indonesia. Dikatakan pertentangan, karena ada keinginan agar bahasa nasional bisa menjadi bahasa pemersatu setiap suku, ras, dan kebudayaan di Indonesia. Kesamarataan penggunaan bahasa nasional di hampir semua lini kehidupan warganya bisa menjadi bertentangan dengan bahasa daerah (bahasa ibu) yang mereka gunakan sebagai bahasa sehari-hari.  

            Bahasa nasional sebagai bahasa kedua yang menghendaki agar semua lapisan masyarakat menggunakannya, bisa berakibat bahasa daerah sebagai bahasa pertama sedikit demi sedikti terkikis. Apabila hal ini tetap dipaksakan, maka bahasa daerah yang kurang kuat alias sedikit penggunanya bisa menghilang bahkan tidak dikenal lagi di masa yang akan datang. Bisa-bisa terbentuk yang dinamakan pola substractive bilingual dalam masyarakat Indonesia, yakni penguasaan bahasa kedua (bahasa Indonesia) lambat laun menggantikan bahasa pertama (bahasa daerah) (Hidayat 2006: 39). Hal ini tentunya sangat disayangkan sekali, karena seperti yang dikatakan oleh Sutarto (2002: 65-66 via Hidayat 2006: 41) yang sudah dikutip di depan bahwa, bersamaan dengan hilangnya bahasa-bahasa daerah, kearifan lokal atau kearifan tradisional yang tersimpan dalam tradisi lisan juga tidak dapat diselamatkan.    

            Hal itu apabila dilihat dari sisi pertentangan, berbeda apabila dilihat dari sisi persatuan, maka antara bahasa daerah dan bahasa nasional bisa hidup berdampingan dengan harmonis. Di samping di sekolah-sekolah diajarkan bahasa Indonesia, juga tetap diajarkan bahasa asli mereka (bahasa daerah). Apabila hal demikian yang terjadi, maka tidak akan terjadi saling penghilangan satu sama lain. Bahasa nasional tidak menghapus bahasa daerah, begitu juga sebaliknya.

            Hal demikian sudah ada indikasi dari pemerintah, yaitu dengan dikeluarkannya garis kebijakan yang telah disusun dalam rangka pembinaan dan pengembangan bahasa daerah, yaitu seperti berikut ini:

“Bahasa-bahasa daerah yang masih dipakai sebagai alat perhubungan yang hidup dan dibina oleh masyarakat pemaikainya, dihargai dan dipelihara oleh negara oleh karena bahasa-bahasa itu adalah bagian daripada kebudayaan yang hidup”.1

 

            Kebijakan demikian tentunya memberi angin segar bahwasanya pemerintah benar-benar memperhatikan bahasa-bahasa daerah yang ada di tanah air ini. Bahasa-bahasa daerah yang ada merupakan kekayaan kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Perlu kiranya kita apresiasi kebijakan tersebut. Namun demikian, kita tidak hanya memberi aplaus saja terhadap kebijakan tersebut, tetapi juga kita wajib menjaga kelestarian bahasa daerah yang ada di tanah air ini.

 

Peran Bahasa Daerah dalam Persatuan Bangsa

            Persatuan bangsa Indonesia terbentuk bukan dari keseragaman, tetapi terbentuk dari keanekaragaman. Semboyan Bhineka Tunggal Ika selalu melekat di hati setiap warga negara Indonesia, karena dengan kebhinekaan inilah bangsa Indonesia ada.

            Bhineka Tunggal Ika tidak hanya menyangkut suku-suku, ras-ras, dan agama-agama saja, tetapi juga mencakup bahasa, karena pada hakekatnya bahasa melekat pada diri manusia. Sementara manusia itu sendiri merupakan pelaku kebudayaan.

            Apa jadinya apabila bangsa Indonesia ini terbentuk dari keseragaman budaya, adat-istiadat, agama, bahasa, dan keseragaman yang lain. Ada pendapat menarik dari Cuellar (1996: 72) yang dikutip oleh Hidayat (2006: 40), yaitu setiap usaha yang memaksakan keseragaman atas kebhinekaan ini merupakan tanda-tanda awal kematian. Pernyataan ini memang terdengar ekstrim, tetapi bukannya tanpa alasan, karena pada dasarnya Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda satu sama lain. Maka, apa jadinya ketika dunia ini semuanya sama, tidak ada perbedaan dan tentunya tidak ada warna warni kehidupan.

            Lebih lanjut dikatakan bahwa khusus dalam hubungannya dengan keberagaman bahasa dikatakan bahwa kebhinekaan bahasa (linguistic diversity) merupakan aset kemanusiaan yang tak ternilai harganya, dan hilangnya sebuah bahasa merupakan pemiskinan (impoverishment) akan sumber pengetahuan dan pikiran masyarakatnya.  

            Hidayat (2006: 40-41) mencontohkan bahwa khasiat buah mengkudu (Jw. Pace) sebagai obat berbagai penyakit sebenarnya jauh-jauh hari sudah diketahui oleh nenek moyang orang Jawa yang seringkali menganjurkan anak cucunya untuk mengalungkannya sewaktu terserang sakit gondong.    

            Hal ini sebagai bukti, bahwasanya bahasa derah ternyata mempunyai peran dan fungsi yang besar terhadap keberlangsungan suatu negara. Benar adanya apabila bahasa daerah hilang berarti kearifan lokal yang ada pun ikut hilang. Misalnya, mungkin kita tidak akan pernah tahu kalau ada dongeng tentang Sangkuriang, Malin Kundang, Joko Tarub, Legenda Roro Jonggrang, Tangkuban Perahu, dan lain-lain kalau tidak ada bahasa lokal yang berperan di sana. Mungkin kita juga tidak tahu kalau di dalam setiap cerita itu menyimpan nilai-nilai kearifan lokal yang tidak sedikit jumlahnya.

            Berkat bahasa daerah – yang kemudian dialihbahasakan ke dalam bahasa nasional – itulah kita bisa tahu tentang berbagai legenda, mite, dongeng, dan berbagai cerita masa lalu yang lain. Kita tidak hanya sekadar tahu, tapi juga diajarkan tentang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Apa yang boleh diperbuat dan apa yang tidak boleh diperbuat semua ada di dalam cerita-cerita tersebut. Pada akhirnya kita mengerti arti dari nilai yang baik dan nilai yang tidak baik.

            Ambil contoh lagi misalnya bahasa Jawa. Di dalam bahasa Jawa terdapat tingkatan-tingkatan mulai dari yang rendah (ngoko), tengah (krama madya), sampai ke tingkatan tinggi (krama inggil). Tingkatan-tingkatan tersebut bukannya tanpa makna, tetapi mengandung nilai-nilai (adat sopan santun) yang langsung teraplikasi di dalam tingkah laku kehidupan pengguna bahasa tersebut (khususnya orang Jawa). Tingkatan-tingkatan tersebut kemungkinan berbeda dibandingkan dengan bahasa yang lain. Karena memang setiap bahasa mempunyai kekhasannya masing-masing.

            Perbedaan yang demikian itu, bukannya kemudian dipertentangkan. Akan tetapi, justru ini menjadi bahan contoh bagi bahasa yang lain bahwasanya ada bahasa yang lain yang berbeda dengan bahasa daerah yang dimiliki. Di sinilah kemudian sikap saling menghargai terbentuk. Antarpemilik bahasa daerah bisa saling mengetahui bahasa di antara keduanya, sehingga timbul rasa menghargai sekaligus timbul rasa memiliki sebagai suatu kekayaan kebudayaan Indonesia.

            Kita tahu bahwa, fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Akan tetapi, tidak hanya sebatas alat komunikasi, bahasa pun mempunyai fungsi yang lebih khusus lagi. Para ahli mencoba menerangkan berbagai macam fungsi khusus dari bahasa tersebut. Seperti Roman Jakobson yang membagi fungsi bahasa menjadi enam fungsi. Begitu juga dengan Mary Finocchiaro yang membagi fungsi bahasa menjadi enam fungsi.

Berbeda dengan kedua linguis tersebut, P. W. J. Nababan (dalam Hidayat 2006: 29), seorang linguis Indonesia, membagi fungsi bahasa sebagai komunikasi dalam kaitannya dengan masyarakat dan pendidikan menjadi empat fungsi, yaitu 1) fungsi kebudayaan, 2) fungsi kemasyarakatan, 3) fungsi perorangan, dan 4) fungsi pendidikan.

Kita ambil saja dua fungsi yang dipaparkan oleh Nababan tersebut, yaitu fungsi kebudayaan dan fungsi kemasyarakatan. Fungsi kebudayaan dari bahasa adalah sebagai sarana perkembangan kebudayaan, jalur penerus kebudayaan, dan inventaris ciri-ciri kebudayaan. Sedangkan fungsi kemasyarakatan bahasa menunjukkan peranan khusus suatu bahasa dalam kehidupan masyarakat. Nababan mengklasifikasikan fungsi kemasyarakatan bahasa ke dalam dua bagian, yaitu berdasarkan ruang lingkup dan berdasarkan bidang pemakaian.

Yang pertama, mengandung “bahasa nasional” dan “bahasa kelompok”. Bahasa nasional berfungsi sebagai lambang kebanggaan kebangsaan, lambang identitas bangsa, alat penyatuan berbagai suku bangsa dengan berbagai latar belakang sosial budaya dan bahasa, dan sebagai alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya. Yang kedua, bahasa kelompok adalah bahasa yang digunakan oleh kelompok yang lebih kecil dari suatu bangsa, seperti suku bangsa atau suatu daerah subsuku, sebagai lambang identitas kelompok dan alat pelaksanaan kebudayaan kelompok itu.

Tampak jelas dalam pemaparan Nababan tersebut bahwasanya, fungsi bahasa sangat penting sekali khususnya dilihat dari fungsi kebudayaan dan fungsi kemasyarakatan di samping juga fungsi yang lain. Penting bagi suatu negara memiliki bahasa nasional yang berfungsi sebagai alat pemersatu berbagai suku bangsa yang berlatar belakang berbeda-beda. Begitu pula dengan bahasa daerah berfungsi sangat penting bagi kelangsungan kehidupan suatu kebudayaan daerah tertentu.    

 

Revitalisasi Bahasa Daerah

            Mengapa kita perlu memvitalkan kembali bahasa daerah di saat-saat sekarang ini. Di tengah arus globalisasi yang mendunia ini, perlu secepatnya kita berbenah diri sebelum terlambat. Dikarenakan kalau kita lambat dalam menghadapinya, maka yang terjadi justru kita terbawa arus globalisasi tersebut. Maka dari itu, dari sisi bahasa perlu kiranya kita menguatkan kembali peran dari bahasa lokal atau bahasa daerah dalam menghadapi arus globalisasi tersebut.

            Contoh nyata saja yang sekarang kita alami, yaitu begitu derasnya arus Bahasa Inggris masuk ke dalam setiap sendi kehidupan kita. Sadar atau tidak sadar, setiap yang kita lihat, dengar, rasakan, hampir sebagian besar berbahasa Inggris selain juga bahasa yang lain – tetapi bahasa Inggrislah yang sekarang sedang menguasai dunia. Mulai dari barang-barang yang kecil seperti pena, pensil, sandal, sampai ke barang-barang yang besar seperti TV, Komputer, Mobil, dan lain-lain hampir semuanya terpampang bahasa Inggris. Bahkan ada juga yang diproduksi oleh pabrik Indonesia, tetapi menggunakan Bahasa Inggris baik di dalam kemasannya ataupun dalam hal pemasarannya.

            Dilihat dari sisi pendidikan pun sama, hampir di setiap sekolah terdapat pelajaran bahasa Inggrisnya, bahkan tingkatan TK-SD pun sudah mengenal Bahasa Inggris. Lantas apakah bahasa daerah atau bahkan bahasa nasional pun bisa berlaku demikian. Belum tentu.

            Kita bisa tengok di dalam pendidikan kita, bahasa daerah hanya sebatas pelajaran muatan lokal yang kadang merupakan pelajaran yang kurang disukai, kalah dengan pelajaran matematika, IPA, atau Bahasa Indonesia. Bahkan mungkin juga dalam menerangkan pelajaran muatan lokal tersebut menggunakan bahasa Indonesia. Apabila memang demikian, perlu sekiranya kita rubah mulai dari sekarang.

            Oleh karena itu, diperlukan usaha yang keras dari semua pihak dalam memvitalkan kembali peran dari bahasa daerah sebagai bahasa asli daerah setempat. Tanggung jawab ini tidak bisa hanya diserahkan begitu saja kepada pemerintah lewat dewan bahasa atau apapun. Akan tetapi, semua pihak mulai dari lingkungan keluarga sampai dengan lingkungan daerah setempat untuk bisa mempertahankan kearifan lokal berupa bahasa daerah tersebut.

            Seperti yang diungkapkan oleh Hidayat (2006: 43) salah satu upayanya adalah memberi keleluasan dalam mengembangkan program pengembangan bahasa daerahnya. Di masa-masa mendatang program pengajaran bahasa daerah di sekolah-sekolah tidak hanya sebatas memfungsikan bahasa daerah sebagai bahasa perantara lalu digantikan dengan bahasa Indonesia (substractive bilingual), tetapi harus mencanangkan pendidikan untuk mencetak anak didik yang di samping menguasai bahasa nasional juga mampu menggunakan bahasa ibunya dengan baik (additive bilingual).

            Tentunya ini hanya sebagian kecil saja usaha yang perlu dilakukan dalam memvitalkan kembali peran bahasa daerah. Masih terbuka luas kesempatan dan cara yang lain agar bahasa daerah bisa menjadi kekuatan bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi daerah yang bersangkutan. 

 

Penutup

            Manusia di manapun hidup pasti membutuhkan komunikasi. Oleh karena itu, komunikasi menjadi barang penting bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Dalam hal ini bahasa sebagai alat dalam berkomunkasi menjadi sangat penting perannya di dalam menghadapi permasalahan yang ada di tanah air ini. Berbicara tidaklah cukup untuk megatasi permasalahan tersebut. Perlu ada suatu tindakan nyata di dalam kehidupan sehari-hari demi persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia.  

 

Asef F. Amani

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNY

 

Catatan

1 Diambil dari buku Sosiolinguistik, yang ditulis oleh I Dewa Putu Wijana dan Muhammad Rohmadi, Yogyakarta: Putaka Pelajar, 2006. Cet. Ke-1, h. 32

 

Sumber Bacaan

Hidayat, Asep Ahmad. 2006. Filsafat Bahasa Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna, dan Tanda. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Soeparno. 2002. Dasar-dasar Linguistik Umum. Yogyakarta: PT Tiara Wacana.

Wijana, I Dewa Putu dan Muhammad Rohmadi. 2006. Sosiolinguistik Kajian Teori dan Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

(Artikel ini termuat dalam Jurnal Kreativa tahun 2008 yang diterbitkan oleh LPM Kreativa FBS UNY)

About these ads
Komentar
  1. asep saefullah mengatakan:

    mas, q minta tulisan mas utk rujukan tulisannku..makasih.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s