Cintai Anak-anak dengan Mencipta Busana “Kenes”

Posted: Februari 9, 2011 in Catatan Bisnis

Bisnis Fashion Anak-anak

Cintai Anak-anak dengan Mencipta Busana “Kenes”

 

BERAWAL dari kecintaan pada anak-anak, mendorong keinginan Harlina Dyah Wijayanti (35) untuk dapat memberikan yang terbaik pada mereka. Bukan sebuah hadiah atau barang kenang-kenangan yang ingin diberikannya, tapi suatu karya kreatif yang sangat bermanfaat bagi anak-anak terutama untuk keseharian mereka, yakni busana.

Dia mengakui memang sudah banyak busana anak-anak yang beredar di pasaran mulai dari berharga murah sampai mahal. Tapi apa yang kemudian mengusiknya untuk turut menambah semarak aneka jenis busana anak-anak tersebut?

“Saya melihat bahwa banyak dari pakaian anak-anak tersebut tidak sesuai dengan karakter mereka sendiri. Artinya, banyak dari busana tersebut bersifat dewasa baik modelnya maupun bahan yang digunakan sehingga tidak cocok jika dikenakan pada anak-anak,” ujarnya saat ditemui di showroom terbarunya yang bernama Kenes Jogja di area Ambarrukmo Plaza Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Untuk itu, wanita yang akrab disapa Nina ini ingin terjun dalam dunia fashion anak-anak dengan tujuan memberikan alternatif pilihan busana anak-anak yang cocok dengan tubuh anak-anak. Bahan yang sangat lembut dengan dipadu motif khas anak-anak, ia mengklaim bahwa busana karyanya ini sangat pas dengan anak-anak mulai usia 6 bulan sampai 12 tahun.

Adapun karyanya tersebut berbahan 100 persen katun yang nyaman dan lembut dengan motif khas anak-anak dan warna-warna yang cerah serta girly. Proses pembuatan menggunakan teknik patchwork atau teknik sambung kain dari motif katun berbeda menjadi satu. Aplikasi teknik ini dinilai dapat memaksimalkan penggunaan bahan kain sehingga sangat sedikit kain yang tersisa dan terbuang.

Di samping itu, wanita kelahiran Jepara 3 Mei 1975 ini pun melihat bahwa prospek bisnis fashion masih sangat potensial baik di pasar lokal Jogja maupun nasional bahkan internasional. Ini karena bisnis fashion dinilai tidak ada matinya, bahkan terus berkembang mengikuti perubahan jaman. Terbukti dari makin maraknya showroom busana di wilayah Jogja mulai dari anak-anak hingga dewasa dan orang tua.

“Karenanya, saya sangat optimis produk saya ini dapat diterima pasar secara luas. Apalagi, karya ini berbeda dari kebanyakan busana anak-anak lainnya,” katanya optimis.

Kenes Jogja yang berarti centil atau kemayu menjadi produk pertamanya sejak ia terjun ke dunia fashion November 2010 lalu. Sebelumnya, ia hanya sebagai karyawan atau pegawai kantoran yang masih dekat dengan dunia anak-anak. Melihat ada peluang terbuka di depan mata, ia pun memberanikan diri keluar sebagai pegawai dan menjalankan usaha mandiri bersama teman sejawatnya, Prastiwi Ariani (28) yang bergerak di dapur produksi.

“Mungkin bisa dibilang saya bosan jadi pegawai dan ingin menjalankan usaha sendiri secara mandiri. Lagipula saya ingin konsentrasi pada keluarga, mengurus anak dan suami sambil tetap berkreasi,” papar alumnus Fakultas Hukum UGM ini.

Awal produksi dan pemasaran, berhasil dilalui dengan mudah. Modal sebanyak Rp 20 juta ia belanjakan membeli bahan baku dan alat seperti mesin jahit dan obras. Sementara akses pemasaran memanfaatkan kemajuan teknologi yakni internet atau penjualan secara online selain juga memanfaatkan jaringan sosial masyarakat di lingkungan sekitar.

“Tidak dinyana, antusias cukup menggembirakan, banyak orang tertarik dan berminat terhadap karya kami. Baik online maupun offline masing-masing berjalan bagus. Tidak kurang dari 15 pcs busana anak-anak diproduksi tiap hari atau sekitar 30 pcs per minggu dengan harga per potong berkisar Rp 70-120 ribu,” ungkapnya seraya menambahkan model yang diproduksi bersifat terbatas atau istilah fashionnya limited edition.

Dari kapastias produksi sebanyak itu, ibu dua putra ini mampu meraup omset sekitar Rp 30-35 juta per bulan. Setelah lebih dari dua bulan berjalan, ia dan juga parternya, Tiwi memberanikan diri ekspansi pasar dengan membuka showroom di Amplaz Jogja dengan harapan lebih banyak masyarakat yang mengetahui produknya.

“Karena masih terbilang baru, kita pun masih akan terus berinovasi mengikuti tren yang sesuai dengan dunia anak-anak. Ke depan, kita juga akan mencoba merambah dunia aksesoris yang tentunya juga sesuai dengan karakter anak-anak,” ungkapnya. (Asef F Amani)

 

(Dimuat di Suara Merdeka, 5 Februari 2011)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s