Kerajinan Sandal Kertas “Dluwang”

Posted: Februari 28, 2011 in Catatan Bisnis

WIRAUSAHA

Kerajinan Sandal Kertas “Dluwang”

Ubah Sampah Kertas Jadi Sandal dan Tas

Kerajinan Sandal dan Tas Kertas "Dluwang"

DI satu sisi sampah memang tidak ada habisnya terus diproduksi. Di sisi lain, sampah pun tidak ada habisnya untuk digali manfaatnya mulai dari dibuat pupuk hingga menjadi kerajinan. Kerajinan inilah yang kini terus digali potensinya oleh orang-orang kreatif menjadi produk yang unik dan menarik.

Salah satunya Yunnas Habibillah (28), anak muda kreatif yang membuat kerajinan sandal dan tas berbahan sampah kertas dengan nama Dluwang. Sampah kertas terutama koran dan majalah yang banyak menumpuk di tempat sampah, diolahnya menjadi kerajinan yang kini mampu membawanya menjadi perajin sekaligus pengusaha sukses beromset jutaan rupiah.

Berangkat dari keisengannya mencoba-coba membuat sesuatu yang baru, pria kelahiran Ngawi 1 September 1982 ini mendapat ide untuk membuat sesuatu dari sampah kertas yang menumpuk di kamar kosnya. Ide liarnya pun bermuara pada pembuatan sandal yang waktu pertama kalinya digunakan sendiri untuk aktivitas sehari-hari.

Kebetulan, pada saat itu sekitar tahun 2008 belum banyak produk sandal kertas di pasaran. Alhasil, banyak teman-teman kampusnya yang tertarik dengan sandal kertas miliknya karena unik. Tidak berselang lama, teman-temannya meminta dibuatkan sendal kertas mirip miliknya. Dengan yakin ia pun menyanggupinya dan langsung membuatkan sandal kertas untuk kawan-kawannya tersebut.

“Lama-lama, makin banyak yang minta dibuatkan lagi. Saat itu pula saya mencoba membuat produk baru lagi yakni tas terutama tas cewek. Ternyata, banyak pula yang suka dan tidak jarang teman-teman memesan sekaligus sandal dan tas buatan saya,” ujarnya saat ditemui di rumah produksinya di Kutu Patran Sinduadi Mlati Sleman Yogyakarta.

Mahasiswa Filsafat UGM ini mengatakan, rasa ragu sempat merasukinya saat pertama kali melakukan percobaan pembuatan sandal dan tas kertas ini. Sebab, bahan kertas mudah robek dan hancur bila terkena air. Padahal, sandal dan tas seringkali terkena air atau tergores benda yang membuatnya robek.

Percobaan pun terus dilakukan hingga pada akhirnya menemukan teknik yang membuat produknya tidak mudah robek dan tahan terhadap air. Lepas dari permasalah teknik pembuatan, Yunnas pun terus melaju memproduksi produk-produknya. Dari semula dikerjakan sendiri, kini memiliki empat karyawan sistem borongan yang siap membantunya dalam hal produksi.

Volume produksi pun kian meningkat. Dari semula hanya sepasang sandal yang dikenakannya sendiri merangkak naik menjadi 200-300 sepasang sandal dan 100-an tas tiap bulannya.

“Ada banyak model yang saya kembangkan, 10 model sandal dan 7 model tas yang mayoritas untuk cewek. Mengapa cewek? Karena wanita paling doyan dengan sandal dan tas, apalagi produknya unik dan eksklusif, sudah pasti mereka langsung tertarik,” katanya.

Tas Kertas "Dluwang"

Seiring makin meningkatnya pesanan dari pelanggan, Yunnas berhasil mengantongi omset berkisar Rp 5 juta sampai Rp 8 juta per bulan. Untung yang terbilang cukup besar mengingat biaya produksi yang relatif kecil, berkisar ratusan ribu rupiah.

“Biaya produksi paling banyak di pembelian kertas, lem, dan vernis. Kertas saya beli di tengkulak seharga Rp 1500/kg atau langsung di pemulung seharga Rp 1000/kg. Dua kilogram kertas bisa menjadi 3 pasang sandal dan satu tas ukuran sedang dengan harga Rp 20 ribu/pasang sandal dan Rp 15 ribu-Rp 75 ribu/tas. Biaya selebihnya untuk gaji pengrajin dan operasional sehari-hari,” terangnya.

Soal pemasaran, anak pertama dari tiga bersaudara ini berhasil menembus pasar melalui internet (online) baik dengan situs milik sendiri (dluwangart.com) maupun situs jejaring sosial semacam facebook. Maka tak heran bila karyanya tersebut jarang ditemui di toko-toko atau butik di wilayah Jogja.

Tapi justru dengan pemasaran online ini pihaknya mampu meraih pasar yang lebih luas mulai dari dalam hingga luar negeri. Jakarta dan Bandung menjadi langganan tetapnya dan beberapa kali dikirim ke Tanggerang, Palu, Padang, hingga Aceh serta pernah dikirim ke Spanyol atas bantuan temannya.

“Selain lewat internet, kami pun sering ikut dalam even-even pameran baik di dalam maupun luar Jogja. Tidak jarang pula kami diajak Pemkot Jogja untuk ikut pameran seperti yang belum lama ini kami ikuti di Jakarta. Hasilnya lumayan bagus, banyak yang minat pada Dluwang dan tidak sedikit yang langsung memesannya,” ungkapnya bangga.

Setelah melewati segala macam halang rintang, kini Yunnas sudah bisa mengambil buah dari jerih payahnya tersebut. Namun demikian, ia masih mempertahankan kesederhanannya terlihat dari rumah produksi sekaligus tempat tinggalnya yang masih mengontrak.

Tapi jangan salah, meski sudah terbilang sukses ia masih tetap low profile dan mau berbagi pengalaman pada orang lain termasuk soal trik usahanya. Maka tak jarang bila ia selalu memenuhi segala undangan menjadi pembicara di berbagai seminar kewirausahaan baik di kampus maupun di luar kampus dan membagi kisah suksesnya pada para peserta seminar yang kebanyakan mahasiswa.

“Sebenarnya saya malu harus berbicara soal kewirausahaan pada mahasiswa karena pada dasarnya saya pun masih menjadi mahasiswa. Tapi apa boleh buat demi kebaikan dan kemajuan bersama saya jalani itu semua. Lagi pula ini sesuai dengan visi saya, terus mengajak kepada generasi muda untuk berusaha dan bekerja meski itu berawal dari sampah,” paparnya.

Itulah sosok Yunnas, pemuda asal Ngawi Jawa Timur yang sukses berkat sampah kertas dan berhasil mengangkat image sampah dari yang tidak berguna menjadi bernilai ekonomis tinggi. (Asef F Amani)

(Dimuat Suara Merdeka, Senin-Selasa/28 Feb-01 Maret)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s