Kerajinan Tatah Kayu Ampel Handycraft

Posted: Maret 22, 2011 in Catatan Bisnis

WIRAUSAHA

Kerajinan Tatah Kayu Ampel

Olah Limbah Kayu Jadi Kerajinan Menakjubkan

 

Kerajinan Tatah Kayu Ampel

IDE kreatif bisa datang kapan saja dan di mana saja. Bahkan, bisa datang secara tiba-tiba. Tapi justru kedatangan yang singkat tersebut dapat membawa seseorang menuju gerbang kesuksesan. Tidak sedikit orang yang sudah sukses, bermula dari ide yang datang secara tiba-tiba bahkan hanya selintas tersebut.

Lantas bagaimana mewujudkan ide kreatif tersebut menjadi kenyataan dan membawa ke arah kesuksesan? Yoga Siratmoko (41) mempunyai jawabannya. Pemuda asal Jurangombo Magelang Selatan ini menyatakan, ide kreatif yang muncul tiba-tiba harus segera ditangkap lalu direalisasikan dalam bentuk tindakan nyata.

Tidak salah ia berpendapat demikian, karena apa yang dikerjakannya saat ini sesuai dengan teori tersebut. Menemukan ide dari melihat tumpukan limbah kayu di industri pengolahan kayu, Yoga langsung mewujudkannya dalam bentuk kerajinan “tatah kayu” yang menakjubkan, “nyeni”, dan bernilai ekonomis tinggi.

Ya, Yoga menemukan ide kerajinan tersebut yang kemudian diberi nama Kerajinan Tatah Kayu Ampel Handycraft. Bertempat di Jl Ampel V Jurangombo Magelang Selatan, ia mengerjakan kerajinan tersebut yang kini sudah berjalan sekitar 5 tahun.

Ditemui di rumah produksinya yang sederhana, Yoga menjelaskan ide tersebut datang saat ia bekerja di pabrik pengolahan kayu. Limbah kayu hasil olahan pabrik yang menumpuk tidak berguna, pikiran kreatifnya jalan untuk menjadikan limbah tersebut lebih bernilai.

“Saya pun coba-coba membuat bentuk binatang yang disusun dari potongan-potongan kayu sengon yang dikeringkan terlebih dahulu untuk mengurangi kadar air. Dengan bantuan lem kayu dan paku yang terbuat dari bambu, saya rangkai menjadi bentuk semut dan laba-laba. Ternyata hasilnya bagus,” kata pria yang memiliki basic seni lukis ini.

Karena hanya coba-coba, ia meletakkan karyanya tersebut hanya di rumah sebagai hiasan. Suatu ketika, ada teman dari istrinya (Kuntiati) yang mengagumi karyanya tersebut dan langsung dibelinya dengan harga murah pada saat itu.Merasa karyanya disukai orang lain, Yoga makin bersemangat untuk membuat lebih banyak lagi bentuk binatang lainnya.

Tidak hanya semut dan laba-laba, ia pun membuat lebih beragam lagi dengan tingkat kesulitan yang makin tinggi. Akhirnya bentuk naga, burung rajawali, ayam, tokoh kartun Hulk, alien, dan sebagainya termasuk karya yang menjadi masterpiecenya yakni pertarungan antara naga dan burung phoenix. Sampai saat ini, total karyanya lebih dari 200 karya.

Seiring makin dikenal luas, pesanan pun terus mengalir baik dari wilayah Magelang dan sekitarnya maupun dari luar bahkan pernah mendapat pesanan dari Singapura. Terakhir ia mendapat order dari Walikota Magelang dan sejumlah pejabat penting lainnya di lingkup Magelang.

“Karena pesanan makin banyak, saya pun mengajak kawan-kawan di sekitar rumah untuk membantu pengerjaan kerajinan ini. Sekarang ada sekitar 10 orang perajin mengerjakan semua pesanan tersebut,” imbuhnya.

Kerajinan Tatah Kayu Ampel

Lima tahun berjalan, usaha kerajinan tatah kayu milik Yoga pun kian membesar dan dikenal publik. Sayangnya, publik Magelang sendiri masih belum banyak mengenal usaha kreatifnya. Karenanya, ia berharap pada langkah pemerintah yang membuat Ruang Pamer Mudalrejo di depan Taman Kyai Langgeng (TKL) Magelang Tengah sebagai tempat memajang aneka produk UMKM di seluruh Kota Magelang.

Dengan dibantu Dinas Koperasi, Industri, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Magelang, karya kreatifnya mendapat tempat di ruang pamer tersebut. Direncanakan, bulan depan ia sudah bisa memajang karyanya dan siap menerima pesanan dari masyarakat yang tertarik dengan karyanya tersebut.

“Kami hanya berharap, masyarakat bisa melihat dan menilai karya kami sehingga kami bisa mengembangkan lebih baik lagi ke depannya,” ujarnya.

Hanya saja, bagi masyarakat yang ingin memesannya harus sedikit bersabar karena proses pengerjaannya yang membutuhkan waktu agak lama. Apalagi dengan proses pembuatan yang masih mengandalkan keterampilan tangan (handmade), waktu pengerjaan ditentukan oleh ukurang dan tingkat kerumitannya.

Yuni T Purwanto (32), salah seorang perajinnya menuturkan, untuk ukuran kecil dan bentuk binatang yang sederhana, lama pengerjaan 2-3 hari. Sementara yang lebih besar dan rumit, bisa mencapai 2 minggu hingga satu bulan mulai dari pembentukan pola, pemotongan, hingga penyambungan dan pengecatan.

“Namun, tidak perlu khawatir. Meski waktunya lama, dari sisi kualitas sangat terjaga. Kami sangat menjaga kualitas produk karena kami tidak ingin konsumen kecewa. Kerajinan ini butuh ketekunan dan ketelitian sehingga produk yang dihasilkan sempurna dan memuaskan konsumen,” katanya.

Soal keuntungan, baik Yoga maupun Yuni dengan rendah hati hanya mengungkapkan hasil yang didapat cukup untuk makan sehari-hari, menggaji perajin, dan berbelanja bahan baku lagi. Namun dilihat dari harga per karyanya yang tidak murah, setidaknya Yoga dan Yuni mengantongi keuntungan jutaan rupiah.

Harga memang tidak murah karena sebanding dengan tingkat kesulitan dan daya kreativitasnya. Satu buah kerajinan berbentuk burung rajawali dijual berkisar Rp 1,5 juta atau yang lebih mahal lagi berbentuk naga dan burung phoenix seharga Rp 4,5 juta. Tapi untuk bentuk serangga-seranggaan lebih murah berkisar Rp 100 ribuan per buah.

“Harga tergantung model dan tingkat kerumitan pembuatannya. Semakin rumit pembuatannya, semakin mahal harganya,” tandasnya.

Ke depan, Yoga dan Yuni masih memiliki ambisi untuk terus membesarkan usahanya tersebut. Apalagi, usaha tersebut merupakan yang pertama dan satu-satunya di Magelang bahkan di Indonesia karena belum ada usaha lain yang menyerupainya.

“Kalau selama ini banyak kerajinan kayu berkategori ukiran atau pahatan, kerajinan kita berbeda dari kerajinan kedua kategori tersebut. Karena itu pula Pak Wali (Walikota Magelang, red) menyebut usaha kita sebagai kerajinan tatah kayu. Kita pun akan terus mempertahankan usaha ini dan terus membesarkannya serta menjadi kebanggaan Magelang,” jelasnya.

(Asef F Amani)

NB: Dimuat Suara Merdeka (16-17 Maret 2011)

Iklan
Komentar
  1. rachmad jatmiko berkata:

    mas terimakasih atas dimuatnya artikel tentang tatah kayu ampel, kami akan mengikuti beberapa even pameran, mohon kalau bisa nanti diliput juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s