Seni Kaligrafi Tripleks

Posted: Maret 31, 2011 in Catatan Bisnis

WIRAUSAHA

Seni Kaligrafi Tripleks

Olah Tripleks Jadi Kaligrafi Bernilai Seni Tinggi

 

Seni Kaligrafi Triplek

KARYA kaligrafi berbahan kaca, kuningan, atau ukiran kayu memang sudah banyak digarap. Akan tetapi, seni menulis indah dengan pena bermediakan kayu tripleks mungkin baru Fuad WSA (49) yang mengerjakannya.

Ya, warga Kedungsari Magelang inilah yang membuatnya pertama kali pada 1998 lalu. Bermula dari permintaan membuat kaligrafi untuk hiasan ma

sjid, Fuad menemukan bahan tripleks sebagai medianya karena memiliki kesan timbul dan “nyeni” saat ditempelkan di dinding masjid.

“Dibandingkan kaligrafi yang ditulis langsung dengan cat di atas dinding, memakai tripleks lebih terlihat unik, menarik, dan bernilai seni. Lagipula, daya tahannya juga berlangsung lama karena saat dinding dicat ulang, kaligrafi masih bisa terpakai dan tinggal ikut dicat ulang,” ujarnya.

Alasan lain, suami dari Tuminah itu memilih tripleks karena barangnya mudah didapat dengan harga yang murah dibandingkan kaca atau kuningan. Juga tripleks yang digunakan tidak harus baru, yang lama atau bekas pun bisa dimanfaatkan asalkan kondisinya masih mulus dan kuat saat digergaji.

Prosesnya sendiri, kata Fuad gampang-gampang susah. Faktor rasa seni dan suasana hati (mood) berperan penting dalam membuatnya. Maka jangan heran kalau proses pembuatan dari membuat pola, mal, pemotongan, hingga penempelan di media tripleks dan sentuhan akhir (finishing) berupa pengecatan dan dipasangi pigura membutuhkan waktu yang tidak singkat.

“Untuk ukuran kecil, 30cm x30 cm paling tidak diselesaikan kurang lebih selama satu bulan. Sedangkan ukuran besar lebih kurang selama 6 bulan penggarapan,” katanya yang pernah membuat kaligrafi arab berbentuk Kiswah (selubung permadani penutup Kakbah) berukuran 215 cm x114 cm selama kurang lebih 6-7 bulan.

Seni Kaligrafi Tripleks

Menurutnya, proses pembuatan kaligrafi tidak boleh sembarangan. Apalagi kaligrafi tersebut berupa ayat-ayat suci Al-Quran yang tidak hanya sebagai hiasan, tapi juga memiliki nilai tinggi. Ketekunan, ketelitian, dan kesabaran menjadi pokok dalam proses pembuatannya.

Alumnus ASRI Jogja ini berkeyakinan apabila dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan benar, pekerjaan tersebut dapat terselesaikan dengan baik dan mampu mendatangkan rezeki. Menariknya, meski selalu menghasilkan karya bernilai seni dan ekonomi tinggi, ia tidak berambisi membisniskan keterampilannya tersebut.

“Saya membuatnya dengan rasa cinta seni. Apabila ada yang berminat membelinya, saya persilahkan tanpa mematok berapa rupiah harga karya tersebut,” ungkapnya sambil menambahkan, pernah satu karyanya dipinang seharga Rp 3,5 juta.

Selama hampir 12 tahun, bapak dua putra ini sudah membuat kurang lebih 70 karya berbagai macam tulisan ayat Al-Quran seperti Surat Yasin, Surat Al-Fatihah, dan Ayat Kursi, tulisan Asmaul Husna, tulisan Allah dan Muhammad, dan sebagainya. Dari karyanya tersebut, ia mampu mencukupi kehidupan ekonomi keluarganya dan masih terus berkarya.

Meski tidak untuk dibisniskan dan diproduksi masal, Fuad masih memiliki harapan bahwa karyanya bisa dikenal luas masyarakat dan menjadi kebanggan Magelang, tanah kelahirannya. Maka, ia pun membuka tangan lebar-lebar apabila pemerintah setempat mau mengajaknya berpameran atau memajang karyanya di ruang pamer yang sudah tersedia.

 

(Asef F Amani)

 

(Dimuat di Suara Merdeka, Kamis 31 Maret 2011)

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s