Archive for the ‘Artikelku’ Category

Pendidikan Multikultural

Posted: September 16, 2008 in Artikelku

MENANAMKAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

KEPADA ANAK-ANAK DENGAN SASTRA

Oleh: Asef F. Amani

 

Dengan pendidikan multikultural, diharapkan adanya kekenyalan dan kelenturan mental bangsa menghadapi benturan konflik sosial, sehingga persatuan bangsa tidak mudah patah dan retak (Musa Asy’arie).

 

S

astra sebagai salah satu jenis ilmu pengetahuan ternyata mampu masuk ke dalam jenis bidang apapun dan dalam situasi bagaimanapun. Sastra pun ternyata mampu berkolaborasi dengan jenis ilmu pengetahuan yang lain, sebut misalnya ilmu sosial yang menghasilkan ilmu Sosiologi Sastra, ilmu psikologi yang menghasilkan ilmu Psikologi Sastra (Psikosastra), ilmu jurnalistik yang menghasilkan ilmu Jurnalisme Sastra, dan ilmu-ilmu yang lainnya. Kolaborasi antara sastra dengan jenis ilmu pengetahuan yang lain ini, lazim disebut sebagai sastra interdisipliner.

            Dalam tulisan ini yang akan berkolaborasi dengan sastra adalah ilmu budaya atau bisa disebut sebagai ilmu Antropologi Sastra. Ilmu tentang manusia dan budaya atau kebudayaannya kemudian dikaitkan dengan ilmu sastra akan menghasilkan sebuah kajian tentang manusia dan kebudayaannya yang menarik, yaitu tentang pendidikan multikultural kepada anak-anak dengan sastra.

 

Pendidikan Multikultural

            Ada beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian dari pendidikan multikulutral. Akan tetapi pada prinsipnya pengertian-pengertian itu sama. Salah satunya adalah seperti yang disampaikan oleh Musa Asy’arie, bahwa  pendidikan multikultural adalah proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat plural. Di sini jelas terlihat bahwasanya pendidikan multikultural menitikberatkan pada sikap hidup yang menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Tidak ada kemudian semacam tekanan, dominasi, diskriminasi, saling mencemooh, dan lain-lain, yang ada kemudian adalah hidup berdampingan secara harmonis, saling toleransi, menghormati, pengertian, dan sebagainya.

            Ada pendapat yang cukup menarik utnuk disimak, yaitu apa yang disampaikan oleh Musa Asy’arie, seperti yang dikutip di atas, “Dengan pendidikan multikultural, diharapkan adanya kekenyalan dan kelenturan mental bangsa menghadapi benturan konflik sosial, sehingga persatuan bangsa tidak mudah patah dan retak”. Di sini terlihat jelas salah satu pentingnya pendidikan multikultural bagi bangsa Indonesia, yaitu untuk menjaga keutuhan bangsa, persatuan dan kesatuan tetap terjaga, dan yang pasti integritas bangsa semakin kuat.

            Itu hanya sedikit pengantar saja mengenai pendidikan multikultural yang dewasa ini sedang berkembang di Indonesia. Pembahasan ini tidak hanya terpusat pada pendidikan multikultural saja, tetapi kemudian pendidikan multikultural dikaitkan dengan dunia anak-anak dan sastra.

 

Mengapa anak-anak?

Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan (1995: 14) memberi pengertian istilah anak-anak adalah insan yang berusia antara dua sampai dua belas tahun, mencakupi anak-anak pra-sekolah dan sekolah dasar. Ditinjau dari segi usia, anak-anak pra-sekolah dibagi lagi atas empat kelompok, anak-anak sekolah dibagi atas tiga kelompok. Itu adalah pengertian yang dilihat secara teoritis, sementara dilihat dari sisi yang lain, misalnya psikologi, masa anak-anak pada umumnya merupakan masa yang sangat sensitif sekali untuk menerima segala apa yang ada di lingkungannya. Pendek kata anak-anak merupakan pendengar yang baik dan peniru yang baik. Pasalnya segala apa yang dilihat dan didengarnya dapat dipastikan kemudian akan ditiru dan dipraktekan dalam kehidupannya. Dan jangan lupa yang tak kalah pentingnya lagi bahwasanya anak-anak adalah generasi masa depan bangsa Indonesia.

Dalam kaitannya dengan tema tulisan ini, saat seperti inilah yang sangat tepat untuk memberikan pendidikan multikultural kepada anak-anak. Anak-anak akan dengan mudah menerima pendidikan yang disampaikan, menerima segala apa yang didengar dan dilihatnya. Pendidikan multikultural masuk sebagai bahan ajar yang relefan dengan kondisi bangsa saat ini dan menjadi bahan pendidikan yang sangat penting. 

 

Ada apa dengan sastra?

            Pertanyaannya kemudian adalah mengapa sastra yang diambil sebagai media untuk menyampaikan atau mengajarkan tentang pendidikan multikultural. Ada apa dengan sastra? sudah tidak asing lagi di telinga kita dengan kata sastra.    Sebagai sebuah ilmu yang banyak menyimpan pengertian, sastra hadir sebagai oase di tengah padang pasir kehidupan kita. Sastra bisa menjadi alternatif bagi orang-orang yang bosan dengan kehidupan yang kaku.

            Dengan banyak sekali ragam sastra yang ada, mulai dari yang berbentuk audio (sastra lisan; dongeng, cerita rakyat, dll), visual (sastra tulis; puisi, cerpen, novel, naskah drama, dll), sampai yang berbentuk audio visual (gabungan keduanya; film, pementasan drama, dll), sastra bisa menjadi alat untuk menyampaikan pendidikan multikultural. Tidak sedikit anak-anak yang menyukai ketiga bentuk sastra tersebut, banyak sekali anak-anak yang suka mendengarkan cerita-cerita rakyat, dongeng-dongeng, atau bentuk sastra lisan yang lain. Banyak juga anak-anak yang suka dengan sastra tulis, puisi, cerpen, novel, dll. Serta tak sedikit pula yang menyukai sastra yang audio visual, film, film kartun, animasi, pementasan drama, dll.

 

Sastra dan Pendidikan Multikultural

            Kemudian bagaimanakah caranya sastra menjadi alat untuk menyampaikan pentingya atau manfaat dari pendidikan multikultural, agar anak-anak memahami dan melaksakan pendidikan multikultural. Sesuai dengan judul yang tertera di atas, “Pendidikan Multikultural kepada Anak-anak dengan Sastra”, maka sastra memegang peranan penting untuk mengajarkan hal tersebut. Ketiga bentuk sastra di atas semuanya bisa digunakan untuk mengajarkan pendidikan multikultural.

            Ada banyak contoh film karya-karya anak negeri sendiri yang mengajarkan pendidikan multikultural. Ambil contoh Film Si Bolang (Trans7) dan Film Denias (film layar lebar besutan sutradara John de Rantau). Pertama, Film Si Bolang (Si Bocah Petualang) hampir setiap hari ditayangkan di stasiun swasta Trans7. Film ini mengisahkan tentang sekelompok anak-anak yang berasal dari suatu daerah yang memperlihatkan kondisi pendidikan di daerah setempat, bermain-main dengan alam (natural), mempertontonkan macam-macam permainan tradisional, dan memperlihatkan adat masyarakat setempat, misalnya, mengenai kesenian daerah setempat. Film Si Bolang dengan mengisahkan kisah tersebut memberi arti kepada kita bahwa bangsa Indonesia sangat kaya dengan budaya dan sangat berragam manusia, bahasa, adat, dan sebagainya.

            Sebagaimana pengertian dari pendidikan multikultural yang tersebut di atas, banyaknya ragam manusia Indonesia, kebudayaan Indonesia, Bahasa daerah, dan lain-lain, akan semakin utuh persatuan dan kesatuan Indonesia jika kesadaran kita akan perbedaan, menghargai keanekaragaman budaya, toleransi terhadap sesama, agama yang berbeda, bahasa yang berbeda, adat yang berbeda, semakin kuat. Di sinilah peran dari pendidikan multikultural untuk bisa mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Film Si Bolang yang semua aktor dan aktrisnya anak-anak, sangat tepat jika anak-anak menjadi sasaran utama film tersebut, karena kebanyakan anak-anak sangat suka sekali film tersebut. Film yang masuk ke dalam jenis sastra anak tersebut, sangat tepat sebagai media pembelajaran pendidikan multikultural bagi anak-anak sedini mungkin.

            Kedua, film Denias yang mengisahkan kehidupan masyarakat di daerah Papua dengan segala keanekaragaman kebudayaannya. Film yang disutradarai oleh John de Rantau ini, mengisahkan tentang seorang anak yang bernama Denias yang giat belajar dan sekolah walaupun kondisinya tidak memungkinkan. Denias yang lahir dari masyarakat miskin tidak mungkin bisa bersekolah di sekolah yang bagus, hanya berupa SD daruratlah yang bisa menampungnya bersekolah. Ditambah lagi dengan adat msyarakat setempat yang menghendaki anak-anak laki harus bekerja membantu orang tuanya di rumah. Akan tetapi, dengan kegigihannya dan semangatnya bersekolah, akhirnya Denias bisa bersekolah di sekolah yang cukup bergengsi yang di situ diisi oleh anak-anak kepala suku yang terhormat dan kaya.

            Tidak hanya segi pendidikan saja yang ditonjolkan dalam film tersebut, dari segi kebudayaan, ragam adat, bahasa, alam raya , dan semua elemen dari daerah Papua pun masuk ke dalam film tersebut. Sama halnya dengan Si Bolang, Denias pun mencoba memperlihatkan bahwasanya Indonesia sangat kaya dengan adat istiadat, kebudayaan, bahasa, kekayaan alam, dan lain-lain. Dengan mengambil setting yang sangat alami, rumah-rumah masyarakat Papua setempat, alam yang masih sangat alami, mencoba menggugah hati masyarakat Indonesia seluruhnya agar tidak sempit pandangan terhadapt Indonesia.

            Di sinilah kemudian peran dari sastra yang berupa film Denias terhadap pendidikan multikultural. Dengan berbagai kultur yang ada tersebut, diharapkan anak-anak bisa lebih memahami arti penting dari sebuah perbedaan. Biasanya, jurang pemisah antara kaya miskin, kulit hitam putih, agama yang berbeda, lapisan masyarakat yang berbeda, semakin besar jika tidak ada semacam pendidikan mengenai semua perbedaan tersebut. Sifat egois, sombong, diskrimanasi akan semakin berkembang seiring dengan tidak berkembangnya sifat menghargai perbedaan. Di sinilah kemudian peran pendidikan multikultural bagi anak-anak, agar anak-anak sejak usia dini bisa memahami arti perbedaan.

            Kedua film tersebut, merupakan sastra yang dilihat dari sisi sastra audio visual (yang bisa didengar dan dilihat), selain itu pun masih banyak lagi jenisnya, seperti film kartun, animasi, dan lain-lain. Sementara, dari sisi sastra visual sangat banyak ragamnya yang berupa karya-karya tulisan, puisi, cerpen, novel, dan lain-lain. Banyak karya-karya sastra yang mengajarkan tentang menghargai perbedaan-perbedaan, toleransi antarsesama, dan sebagainya. Tak sedikit karya sastra yang mengangkat kebudayaan suatu daerah di Indonesia, adat istiadat, dan lain-lain. Ambil contoh misalnya Novel Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) yang mengambil setting di daerah Paruk. Novel Incest (I Wayan Artika) yang mengambil setting di daerah Bali. Kedua novel tersebut sama-sama membicarakan mengenai adat kebiasaan daerah setempat, disertai pula dengan berragam watak manusianya, dan tak ketinggalan pula kekayaan alam daerah setempat. Ini mengisyaratkan bahwasanya Indonesia sangat berragam sekali kebudayaannya, kekayaan ragawi yang cukup besar, dan sebagainya.

 

Sastra Anak

            Untuk jenis sastra bagi anak-anak juga sangat banyak dan berragam jenisnya. Ambil misalnya cerita-cerita bergambar mengenai cerita rakyat atau dongeng daerah tertentu, misalnya Sangkuriang, Gunung Tangkuban Perahu, Si Kancil, Timun Mas, Bawang Merah Bawang Putih, Malin Kundang, dan lain-lain yang kesemuanya itu menggambarkan kekayaan kebudayaan Indonesia yang tersebar di mana-mana. Di sinilah petingnya pendididikan multikultural bagi anak-anak, dengan membaca atau menceritakan cerita-cerita tersebut diharapkan anak-anak bisa mengerti arti penting dari perbedaan, sekaligus memperkenalkan kekayaan Indonesia.

            Dengan cara bercerita (yang merupakan sastra audio) anak-anak akan semakin antusias atau lebih tertarik untuk lebih mendengarkan cerita-cerita atau dongeng tersebut. Pada dasarnya memang anak-anak suka sekali kalau diceritakan atau didongengkan sesuatu dan ini biasanya lebih masuk ke dalam diri anak tersebut. Sangat efektif sekali dengan metode bercerita ini, karena yang diserang adalah segi psikologi anak-anak, jiwa dan pikiran anak-anak, dan akan sangat mudah sekali unsur pendidikan itu masuk ke dalam diri si anak-anak. Seperti yang diungkapkan oleh Suwarjo (dosen FIKIP Universitas Lampung) dalam tulisannya, beliau mengatakan, “Dengan bercerita dan/atau menulis, siswa mengaktualkan tataran komunikasi dan kognisi individu yang dia miliki”. Jadi, anak-anak akan mengaktualkan tataran komunikasi dan kognisi individu yang dimiliknya dengan bercerita dan/atau menulis. Anak-anak akan lebih bisa menangkap materi-materi yang disampaikan dan mampu mengaktualkannya dengan metode bercerita.

            Itulah kehebatan dari sastra sebagai bahan pembelajaran dalam mengajarkan pendidikan multikultural. Ada beberapa efek positif lain yang diperoleh melalui sastra, seperti yang disampaikan oleh Suwarjo “Efek positif lain yang diperoleh melalui sastra, antara lain, terdorongnya motivasi, berkembangnya kognisi, berkembangnya interpersonal (personality), dan berkembanganya aspek sosial”. Di sini jelas terlihat bahwasanya dengan sastra motivasi akan semakin terdorong, dalam hal ini motivasi tentang pendidikan multikultural, kognisi anak-anak akan semakin berkembang, karakter anak pun akan semakin terbentuk atau interpersonal (personality) anak semakin berkembang, dan juga aspek sosial anak-anak akan semakin berkembang, interaksi sosial terus berkembang.

 

Sastra dan Martabat Suatu Bangsa

            Ada sebuah pendapat yang cukup menarik yang disampaikan oleh para ahli sastra, para ahli sastra mengungkapkan, “Melalui sastra martabat suatu bangsa dapat terangkat dan dengan membaca sastra tercipta pula keluhuran budi dan kehalusan rohani.” Pendapat ini mengisyaratkan pada kita tentang arti penting dari sastra dan manfaat dari sastra ternyata sangat besar, sampai-sampai martabat bangsa dapat terangkat dengan sastra. Memang tidak berlebihan pendapat seperti itu, seperti yang dibahas dalam tulisan ini salah satunya adalah memang dapat mengangkat martabat bangsa Indonesia. Dan juga ternyata dengan membaca sastra tercipta pula keluruhan budi dan kehalusan rohani. Sangat tepat sekali pendapat tersebut, jika memang yang dibaca adalah karya sastra yang bermutu atau tidak ecek-ecek.

            Berarti, dengan membaca sastra atau dengan sastra itu sendiri arti penting dari pendididkan multikultural bisa sampai kepada anak-anak, dan tentunya tidak hanya martabat bangsa bisa terangkat, tetapi persatuan dan kesatuan Indonesia semakin utuh dan erat serta tidak akan tergoyahkan oleh gelombang apapun dan oleh jenis angin apapun.

 

Yogyakarta, 04 Juni 2007

 

Iklan

Membaca Lalu Menulis

Posted: September 10, 2008 in Artikelku
Tag:,

Membaca Lalu Menulis![1]

Oleh: Asef F. Amani[2]

 

Seringkali kita melihat suatu tulisan di surat kabar yang isinya membahas sesuatu hal dengan bebas, sesuka hatinya, tapi masih dalam koridor etika menulis. Bebas artinya mengeluarkan pendapat atau ide apapun tanpa ada batasan atau tekanan dari manapun, kecuali etika kepenulisan itu sendiri. Isi yang bebas itulah yang menjadi kekuatan tulisan artikel. Lantas, pertanyaannya apakah itu artikel? Mengapa suatu tulisan itu disebut dengan artikel? Dan bagaimanakah cara menulis artikel? Temukan jawabannya dalam uraian berikut: 

 

Apa Itu Artikel?

Secara harfiah artikel adalah tulisan lepas berisi opini seseorang yang mengupas tuntas suatu masalah tertentu yang sifatnya aktual dan atau kontroversial dengan tujuan untuk memberitahu (informatif), memengaruhi dan meyakinkan (persuasif argumentatif), atau menghibur khalayak pembaca (rekreatif), begitu apa yang dikatakan oleh AS Haris Sumadiria di dalam bukunya yang berjudul Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, Panduan Praktis Penulis & Jurnalis Profesional (2005). Sementara menurut KBBI (1990: 49), artikel adalah karya tulis lengkap dalam majalah, surat kabar, dan lain-lain.

 

Lho, apa bedanya dengan opini dan esai? Sebenarnya tidaklah berbeda antara artikel, esai, dan opini, karena ketiganya berangkat dari sifat yang sama, subjektif. Subjektif artinya menurut diri sendiri, pendapat yang diatasnamakan diri sendiri, bukan orang lain. Selain itu, juga ditulis dengan dasar pendapat, gagasan, ide atau opini. Tentu isinya pun atas dasar pikiran yang lahir dari diri sendiri. Untuk perbedaannya hanya terletak pada gaya menulisnya saja. Menurut Haerus Salim, dalam salah satu artikelnya (2007) mengatakan kalau esai itu bisa dipahami sebagai suatu gaya di dalam menulis. Esai cenderung memakai gaya yang ringan, renyah, dan mudah dipahami. Sementara artikel memakai gaya yang cenderung berat, apalagi artikel ilmiah yang sering berilmiah ria. Keduanya termasuk ke dalam tulisan opini.

Karakteristik Artikel

Mengapa sebuah tulisan itu bisa disebut artikel atau bukan sebagai artikel? Maka, untuk bisa memilihnya ada beberapa karakteristik artikel yang perlu diperhatikan. Apa yang disampaikan oleh AS Haris Sumadiria (2005: 4) berikut bisa menjadi referensi bagi kita, yaitu:

  1. Ditulis dengan atas nama (by line story);
  2. Mengandung gagasan aktual dan atau kontroversial;
  3. Gagasan yang diangkat harus menyangkut kepentingan sebagian terbesar khalayak pembaca;
  4. Ditulis secara referensial dengan visi intelektual;
  5. Disajikan dalam bahasa yang hidup, segar, populer, dan komunikatif;
  6. Singkat dan tuntas; dan
  7. Orisinal.

 

Tambahan untuk tujuh karakterisik artikel di atas adalah tulisan artikel bersifat subjektif. Subjektiitas penulis masuk ke dalam tulisannya tersebut, artinya segala ide, gagasan, atau pendapatnya ter-input ke dalamnya. Inilah yang membedakan antara tulisan opini dengan berita (news).

 

Jenis-Jenis Artikel

Artikel tidak hanya terdapat satu biji saja, tapi beberapa buah. Memangnya artikel ada berapa banyak sih? Masih menurut AS Hari Sumadiria, artikel secara umum dapat dibedakan menurut jenis dan tingkat kesulitan yang dihadapinya, yaitu: (1) artikel praktis, (2) artikel ringan, (3) artikel halaman opini, dan (4) artikel analisis ahli. Atikel praktis berisi lebih banyak petunjuk praktis tentang cara melakukan sesuatu (how to do it). Artikel praktis lebih menekankan pada aspek ketelitian dan keterampilan daripada masalah pengamatan dan pengembangan pengetahuan serta analisis peristiwa.  

 

Artikel ringan, sifatnya lebih ringan. Topik yang diangkat bersifat ringan dengan penyampaian yang juga ringan. Biasanya ditemukan dalam rubrik anak-anak, remaja, wanita, dan keluarga. Artikel halaman opini lazim ditemukan pada halaman khusus opini bersama tulisan opini yang lain, seperti tajuk rencana, kolom, surat pembaca, karikatur, dan lain-lain. Artikel opini mengupas suatu masalah secara serius dan tuntas dengan merujuk pada pendekatan analitis akademis. Sifatnya relatif berat. Dan artikel analisis ahli. Artikel jenis ini ditulis oleh ahli atau pakar di bidangnya dalam bahasa yang populer dan komunikatif. Biasanya dapat ditemukan di halaman muka surat kabar, atau halaman dan rubrik khusus tertentu.

 

Bagaimana Cara Menulis Artikel?

Setelah mengetahui karakteristik artikel tersebut, pertanyaan selanjutnya bagaimana caranya kita dengan mudah menulis artikel? Pertanyaan ini yang selalu ditanyakan oleh para penulis khususnya penulis pemula. Tidak salah memang, tapi justru malah akan lebih memotivasi untuk menuliskan ide-idenya.

 

Banyak para ahli mencoba memberikan tips-tipsnya dalam memulai menulis, baik itu artikel, esai, karya ilmiah, laporan kegiatan, dan lain-lain. Tapi, langkah-langkah yang ditempuh berbeda-beda antara yang satu dan yang lain. Antara menulis artikel dan karya ilmiah sudah berbeda caranya, begitu juga dengan laporan kegiatan pasti berbeda. Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam prose menulis artikel adalah sebagai berikut:

 

Sebelum masuk ke langkah-langkah konkret dalam menulis artikel, yang utama untuk dipersiapkan adalah niatkan dalam hati bahwa saya ingin menulis dan menjadi penulis. Niat penting untuk memotivasi hati dan pikiran untuk terus berproses menulis. Niat juga penting sebagai sensor agar di akhir tidak ada rasa kecewa atau bosan karena tulisannya selalu jelek atau ditolak media, bahkan banting setir ke bidang lain. Maka dari itu, mulailah dari sekarang mantapkan hati dan pikiran untuk mulai menulis dan ingin menjadi penulis.

 

Langkah 1. Tangkap ide dan tuangkan dalam gagasan. Mengapa ide harus ditangkap? Karena ide adalah sesuatu yang melintas di dalam pikiran kita. Sifatnya masih sangat umum, apa saja. Bisa dalam bentuk sebuah kata, kalimat, gambar, warna, dan lain-lain. Sementara itu, arti dari gagasan adalah cikal bakal suatu kegiatan atau pekerjaan yang akan kita lakukan (Haris Sumadiria 2005: 26).

 

Ide bagaikan samudera tak bertepi, luas sekali. Tinggal bagaimana kita menjaringnya saja untuk dijadikan sebuah tulisan. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menemukan ide. Lihat saja di sekeliling kita, baik dari hal-hal yang kecil, remeh, sampai hal-hal yang bersifat besar. Itu semua bisa dijadikan ide untuk bahan tulisan kita. Dengan berdiam diri di kamar, berjalan mondar-mandir, berjalan di taman, membaca buku, bahkan sambil kencing atau berak (maaf!) di kamar mandi pun bisa dilakukan untuk menemukan ide.   

 

Untuk memudahkan dalam menemukan ide, kita pun harus bisa melihat pada diri kita sendiri. Artinya kita melihat kahlian kita di bidang ilmu apa, sastra, linguistik, sosial, eksak, atau apa saja. Selain itu, juga kita melihat pada kesukaan kita, misalnya, suka pergi ke objek wisata, suka membaca buku sastra, suka melihat pameran fotograsi, dan lain-lain. Ini penting karena apa yang kita kuasai dan sukai itu yang akan memudahkan kita menuliskannya.

 

Misalnya, keahlian kita di bidang sastra dan kebetulan juga kita suka membaca puisi, cerpen, novel, atau drama. Maka, kita akan mudah menuliskan tentang sastra daripada kita menulis tentang politik atau ekonomi. “Menulislah apa yang Anda bisa dan suka”, begitu kata Zaenuddin HM (2003: 29). Agar ide tidak mudah lari, bawa selalu buku catatan atau apapun yang bisa digunakan untuk mencatat.

 

Langkah 2. Setelah gagasan sudah kita tuangkan. Kita lanjutkan dengan mengembangkannya dalam bentuk tema kemudian disempitkan lagi ke dalam bentuk topik. Topik lebih sempit dari tema, jadi topik akan lebih dekat dengan rancangan tulisan. Dari topik yang sudah ditentukan tersebut, kemudian disusun semacam tesis atau jalan pikiran. Dari tesis kemudian bisa langsung dituangkan dalam bentuk judul tulisan atau bisa membuat judul setelah selesai menuliskannya.

 

Langkah 3. Untuk memudahkan dalam penulisan, terlebih dahulu dibuat kerangka karangan (out line). Dari tema, topik, tesis, dan judul yang sudah ada tersebut, langsung saja disusun rancangan karangannya dalam bentuk kerangka karangan. Ttapi, tidak semua penulis melakukan ini, apalagi bagi penulis yang sudah biasa menulis. Tidak ada kesulitan yang berarti meskipun tanpa membuat kerangka karangan. Namun demikian, untuk pemula sebaiknya langkah ini ditempuh.

 

Seorang arsitek akan selalu membuat rancangan bangunan yang akan dibuatnya, mulai dari hal-hal yang kecil sampai hal-hal yang paling penting. Luas tanah yang akan digunakan untuk mendirikan bangunan, membuat kerangka kasarnya, sampai bahan-bahan apa yang akan digunakan pun masuk ke dalam rancangan kerja. Begitu juga dengan penulis yang akan membuat sebuah tulisan.

 

Pak Haris Sumadiria (2005: 36) mencoba menawarkan rumus membuat rancangan atau kerangka karangan. Beliau menamakannya dengan pola 3P dan rumus ABC. Apa tu 3P? dan apa itu ABC? Sederhana saja apa yang beliau rumuskan, pola 3P merupakan singkatan dari pendahuluan, pembahasan, dan penutup. Hanya saja pola 3P ini diapakai apabila membuat tulisan yang sifatnya induktif. Awal tulisan merupakan pemaparan secara umum, kemudian masuk ke inti pembahasan, dan terakhir adalah penutup yang berupa kesimpulan.

 

Tidaklah cukup hanya mengandalkan pola 3P saja, tapi harus dilengkapi juga dengan rumus ABC. Rumus ABC merupakan urutan secara alfabetis atau secara numerik sama dengan 123. Rumus ABC merupakan turunan dari pola 3P, berarti polanya menjadi P1 (pendahuluan), P2 (pembahasan), dan P3 (penutup). Pola dan rumus ini hanyalah bersifat kerangka, belum ada isi apa-apa di dalamnya. Maka langkah selanjutnya menjadi penting diperhatikan, yaitu mengisinya dengan topik-topik kecil atau sub tema.

 

Jadi, misalnya kalau digambarkan bisa seperti ini:

          Ide               :

          Topik            :

          Judul             :

Kerangka Karangan: 

(PENDAHULUAN)

          A. Sub Tema

          B. Sub Tema

          (PEMBAHASAN)

          A. Sub Tema

          B. Sub Tema

          (PENUTUP)

          A. Sub Tema

          B.  Sub Tema

 

Langkah 4. Untuk proses selanjutnya adalah tidak langsung menuliskannya dalam bentuk tulisan, tapi terlebih dahulu mencari bahan-bahan yang digunakan untuk menulis. Bahan-bahan tersebut sifatnya teknis, tapi penting juga untuk menunjang proses menulis. Adapun yang perlu disiapkan antara lain: alat tulis, buku catatan, komputer atau lap top, dan bahan yang bersifat rujukan, seperti buku bacaan, bahan dari internet, artikel-artikel, catatan-catatan sekolah, atau bahan lain yang digunakan sebagai rujukan (referensi). Referensi menjadi sangat penting karena tulisan tanpa referensi ibarat sayur tanpa garam, hambar.  

 

Dalam mencari referensi, faktor relevansi menjadi penting, karena relevansi hubungannya dengan sinkronisasi (padu) antara tulisan yang ingin dibuat dan bahan yang dijadikan rujukan. Misalnya, mau membicarakan tentang cara menulis artikel, tapi mencari bukunya tentang cara memasak atau cara menulis berita, ya tidak padu di antara keduanya. Langkah mudah yang bisa diambil dalam mencari referensi adalah dengan mencatat buku-buku yang dibutuhkan atau mencatat topik yang akan dicari di internet.

 

Langkah 5. Setelah referensi, data, informasi, semua yang dibutuhkan sudah tersedia lengkap, tinggal kita konsentrasi menulis di buku atau di hadapan komputer. Biar kita lebih konsentrasi menulis di depan komputer, pikiran dan hati kita fokuskan ke tulisan. Untuk menunjang agar kita lancar menulisnya, buat suasana tempat kita menulis senyaman mungkin. Ini mempengaruhi juga dari segi psikologi. Buat hati merasa nyaman, senang, enjoy, sehingga menulis pun lancar. Bisa juga sebagai pelengkap disiapkan makanan, minuman, atau musik sebagai pendamping kita menulis. Bagi yang suka rokok atau kopi, bisa disediakan terlebih dahulu rokok dan kopinya serta ditemani pisang goreng atau jadah tempe, dan apa saja. Pada intinya, buat suasana senyaman mungkin selama kita menulis.

 

Seringkali selama menulis, kita terganggu dengan hal-hal sepele. Misalnya kita tergoda untuk mengedit tulisan kita, padahal belum selesai. Atau kita terhadang kebuntuan dalam menuliskannya, bahkan tiba-tiba kita merasa bahwa tulisan tersebut tidak bagus, kurang di sana-sini. Persoalan seperti ini buanglah jauh-jauh dari pikiran kita. Kita teruskan saja menulisnya, persoalan mengedit itu urusan belakangan. Edit adalah langkah selanjutnya setelah selesai menulis.

 

Untuk persoalan terhadang kebuntuan, bisa dilakukan dengan istirahat sebentar, bisa pergi ke belakang dulu untuk buang air kecil atau cuci muka, atau berjalan-jalan sebentar, atau main game. Tapi ingat, jangan berlebihan melakukan itu, karena bisa jadi ide kita hilang semua dan kita tidak bisa menyambungnya dengan tulisan yang awal. Nah, untuk urusan merasa bahwa tulisan kita tidak bagus, itu juga buang saja jauh-jauh. Yang penting kita tetap percaya diri (pede) dengan tulisan kita, terserah omongan orang lain yang menganggap tulisan kita jelek atau bagus, hak mereka. Yang penting kita menuangkan ide kita sampai tuntas.

 

Langkah 6. Untuk langkah yang terakhir adalah proses editing. Dalam proses ini kita bisa langsung melakukan editing ketika selesai menulis atau kita tinggal beberapa menit atau jam bahkan berapa hari. Tapi, sebaiknya kita tinggal dulu beberapa jam agar pikiran kita fresh dan kita bisa memperbaiki tulisan kita. Berhari-hari pun boleh asalkan jangan terlampau lama, cukup sehari atau maksimal dua hari. Ini penting untuk menjaga ingatan kita agar tidak lupa dengan apa yang kita tulis.

 

Dalam proses editing pun bisa dilakukan oleh diri kita sendiri atau kita minta bantuan teman untuk mengeditkannya. Dua cara ini bisa dipilih salah satunya saja atau bisa juga digunakan keduanya. Ini penting untuk bisa merevisi apabila ada yang kurang atau ada yang salah. Meskipun proses editing baik, tapi ada juga penulis yang tidak suka tulisannya diedit. Misalnya, Pramoedya Ananta Toer tidak pernah mengedit karya-karyanya. Seandainya ingin mengedit, diedit dengan tulisan lagi. Artinya mengedit dengan tulisan yang baru. Terserah pad Anda, mau diedit atau tidak.

 

Dalam proses editing, ada dua hal yang bisa dilakukan, yaitu edit dari segi teknis dan dari segi substansi. Dari sisi teknis, bisa mengedit kesalahan atau kekurangan dari segi tata bahasa, EYD, tata letak (lay out), jumlah karakter, dan lain-lain. Sementara dari segi substansi, bisa mengedit ketajaman analisis, mengganti judul, bisa menambahi atau mengurangi kutipan atau bahan, bahkan bisa juga merubah isi dari naskah (relatif).

Apakah hanya sampai di situ saja prosesnya? Tidak. Masih ada satu proses lagi, yaitu tulisan yang sudah kita hasilkan tersebut sebaiknya dikirmkan ke surat kabar, majalah, buletin, jurnal, atau produk jurnalistik lainnya, bahkan kita terbitkan dalam bentuk buku. Tapi, terserah kebijakan itu ada di tangan Anda sendiri.

 

Sebagai penutup tulisan ini, saya sampaikan bahwa tips yang paling ampuh untuk menulis, entah artikel atau apapun adalah MEMBACA LALU MENULIS DAN MENULIS! Agar tulisan kita lebih kaya dan berbobot, maka membaca adalah solusinya. Agar bacaan kita ada manfaatnya, maka menulis adalah jawabannya. Maka jangan ragu-ragu lagi, ayo kita membaca lalu kita tuangkan ke dalam tulisan. Membaca dan menulis adalah semboyan kita. Kalau Filusuf Descartes mengatakan bahwa “Cogito ergo sum”, ‘Saya berpikir, maka saya ada’. Maka kalau saya mengatakan bahwa, “Saya menulis, maka saya ada”.

 

Yogyakarta, 06 Maret 2008

 

 

Sumber Bacaan:

 

Moeliono, Anton M. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Salim, Haerus. 2007. Pengalaman Membaca Esai (Bahan untuk materi “Esai” Workshop Writing Berkelanjutan III, untuk remaja, di Magelang, 25 Maret 2007). 

Sumadiria, AS Haris. 2005. Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, Panduan Praktis Penulis & Jurnalis Profesional. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Zaenuddin. 2003. Freelance Media, Cara Gampang Cari Uang. Jakarta: Milenia Populer.

 


[1] Disampaikan dalam acara kegiatan life skill kelompok jurnalistik Madrasah Aliyah UIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta pada hari Kamis, tanggal 06 Maret 2008. 

[2] Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta dan Manager Komunitas Gerimis Yogyakarta.

Menulis

Posted: September 10, 2008 in Artikelku

MENULIS[1]

Oleh: Asef F. Amani[2]

 

Obah Mamah, Ubet Mesthi Ngliwet

Sapa Kang Teteken Katekunan Mesthi Bakal Katekan

(Pepatah Jawa)

 

Pekerjaan menulis sebenarnya bukanlah kegiatan yang baru bagi kita. Hampir setiap hari kita dihadapkan pada pekerjaan menulis, apalagi para pelajar yang setiap Senin sampai Sabtu bersekolah, sudah barang tentu menulis adalah pekerjaan rutin. Ditambah lagi dengan jaman yang serba canggih ini. Contoh kecil misalnya menulis SMS, hampir semua kalangan memanfaatkan layanan ini. Mengetik SMS pun merupakan kegiatan menulis, jangan dikira mengetik SMS hanya sembarang mengetik, SMS bisa digunakan untuk bersastra, berbisnis, bahkan sampai digunakan untuk kejahatan.

            Berangkat dari hal yang kecil itulah seseorang bisa menjadi penulis yang hebat (great writer). Tidak terkecuali bagi mereka yang baru terjun di dunia tulis menulis bisa menjadi penulis yang termashur asalkan ada kemauan dan usaha yang keras untuk mewujudkannya. Lalu, bagaimana dengan kita?

 

Apa itu menulis?

Menulis adalah kegiatan menuangkan ide, gagasan, pendapat, pengalaman, perasaan, pengetahuan, dalam bentuk tertulis, untuk dikomunikasikan kepada publik atau orang banyak, melalui suatu media. Menulis membutuhkan “keterampilan” tersendiri yang tidak semua orang pernah melakukannya. Sebab tulisan yang dihasilkan haruslah memiliki bobot mendalam dan ditulis sistematis dengan mempertimbangkan banyak aspek dan kaidah-kaidah tertentu (Asti 2005:13). Karena menulis membutuhkan keterampilan, maka menulis dapat dipelajari baik dibantu oleh orang lain atau belajar secara mandiri. Dalam proses balajar itulah seorang penulis bisa berubah dari penulis pemula yang tidak tahu apa-apa menjadi seorang penulis yang profesional.

 

Apa manfaat menulis?

Banyak manfaat dapat diperoleh dari menulis. Selain manfaat sosial, juga diperoleh manfaat spiritual, emosional, dan finansial (R. Masri 2007: 78). Menulis bukanlah kerja yang sia-sia, karena menurut orang-orang menulis banyak menghasilkan manfaat baik bagi diri penulis itu sendiri maupun bagi orang yang membaca tulisan itu. Banyak buku yang mengupas tentang manfaat dari menulis, terutama buku-buku yang bertemakan menulis. Salah satunya adalah buku Gairah Menulis (2005: 22-28) karya Lasa Hs. Adapun manfaat-manfaat menulis yang diungkapnkan dalam buku Gairah Menulis adalah sebagai berikut:

a.       Memperoleh keberanian

Rasa takut seringkali menghantui para penulis pemula. Takut tulisannya jelek, dicemooh, ditolak media atau penerbit, dan ketakutan yang lain. Dengan terus saja menulis, dengan sendirinya rasa takut itu akan berkurang bahkan hilang dalam diri seorang penulis, dan tentunya justru menulis akan menjadi pekerjaan yang mudah dan menyenangkan. Persis sama dengan teori berenang. Apabila seseorang takut dengan air, maka dia tidak akan bisa berenang. Tetapi kalau dia berani menjeburkan diri ke air dan belajar berenang, maka dia pun bisa berenang, bahkan menjadi seorang perenang yang handal.

b.      Menyehatkan kulit wajah

Fatimah Mernissi, perempuan penulis Islam dari Maroko, pernah menulis dalam salah satu bukunya dan berpesan, “Usahakan menulis setiap hari, niscaya kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa. Dari saat Anda bangun, menulis meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantung di bawah mata Anda akan segera lenyap dan kulit Anda akan terasa segar kembali”.

c.       Membantu memecahkan masalah

Saat sekarang ini dibutuhkan sekali solusi-solusi yang bisa memecahkan berbagai masalah bangsa Indonesia. Salah satunya adalah dengan menulis. Berbeda dengan berbicara, yang meskipun cepat tapi kurang mendalam dan cepat hilang, menulis cenderung memiliki kedalaman dan daya ingat yang lebih dari pada berbicara. Proses menulis membutuhkan pemikiran yang panjang dan mendalam, selain itu juga akan mudah diingat dalam jangka waktu yang lama. Hal ini akan berimbas pada solusi yang ditawarkan dapat dipertanggungjawabkan. 

d.      Membantu untuk memperoleh dan mengingat informasi

Proses menulis sebenarnya merupakan suatu proses pengungkapan kembali tentang segala sesuatu yang telah terekam dalam otak seseorang. Biasanya seorang penulis yang baik sering membaca bacaan yang akan menambah pengetahuannya. Dari proses pembacaan itulah penulis mendapat informasi yang bisa dimanfaatkan ketika dia menulis dengan cara mengingat kembali apa yang sudah didapat ketika membaca. Semakin sering menulis, maka ingatan seseorang semakin kuat dan daya analisisnya semakin tajam.

e.       Mengatasi trauma

Dr. Pennebaker menyatakan bahwa orang-orang yang menuliskan pikiran dan perasaan terdalam mereka tentang pengalaman traumatis akan menunjukkan peningkatan fungsi kekebalan tubuh bila dibanding orang-orang yang menuliskan masalah-masalah yang remeh. Dikatakan selanjutnya bahwa menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam dari trauma yang mereka alami akan menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih positif, dan kesehatan fisik yang lebih baik.

f.        Menjernihkan pikiran

Menulis pada hakikatnya adalah usaha mengekspresikan pelbagai kesumpekan, ketidakadilan, kejengkelan, dan perasaan lain. Apabila dikeluarkan melalui tulisan, maka kesumpekan itu dapat berkurang, hilang, dan ada kepuasan tersendiri.    

 

Tidak jauh berbeda dengan buku Gairah Menulis, buku How to Write and Market A Novel (2007: 78-88) karya R. Masri dan Yennie pun mencoba memberikan point-point manfaat dari proses menulis. Adapun manfaat menulis yang terdapat dalam buku tersebut adalah: Pelepasan emosional, belajar dua kali, memperkaya diri, melatih berpikir, mendapat imbalan, manfaat finansial, dan manfaat sosial.  

 

Peran Penulis

Masih dalam buku yang sama (Gairah Menulis), dijelaskan pula peran-peran dari seorang penulis di dalam kehidupannya. Dikatakan bahwa penulis memiliki peran strategis untuk mengubah suatu keadaan dalam mengembangkan pola pikir masyarakat sehingga penulis bisa berperan sebagai intelektual, pendidik, pengontrol, dan pembaharu.

         Intelektual

Aktivitas menulis adalah kegiatan intelektual. Jadi, penulis sebenarnya melakukan kegiatan keilmuan dalam mengembangkan kehidupan intelektual. Dengan naluri yang kuat, seorang penulis mampu menangkap fenomena lingkungan masyarakat dan lingkungan alam yang selanjutnya dipikir, dianalisis, disikapi, serta berusaha untuk memberikan solusi.

         Pendidik

Penulis menyampaikan nilai, ajaran luhur, dan sikap melalui tulisan yang berbentuk buku, novel, cerpen, artikel, karya ilmiah, dan lainnya. Nilai-nilai luhur itu disampaikan kepada masyarakat melalui tulisan agar mereka lebih baik dan abadi.

         Pengontrol

Penulis adalah sesosok manusia yang memiliki kepekaan dan sikap kritis terhadap fenomena sosial, ilmu pengetahuan, ekonomi, budaya, politik, dan pendidikan yang terjadi. Dengan nurani dan nalurinya, penulis cepat bereaksi untuk menilai dan mengontrol fenomena tersebut. Mereka bicara melalui tulisan  yang seolah-olah gelisah dan resah melihat fenomena itu. karya-karya mereka dapat dijadikan sebagai media kontrol terhadap fenomena-fenomena yang terjadi. Contohnya: karya-karya penelitian yang bertemakan pendidikan, dan karya-karya yang lain.   

         Pembaharu

Menulis merupakan kegiatan yang memiliki nilai luar biasa dalam kehidupan manusia karena tulisan mampu mendokumentasikan dan menyebarkan ide, gagasan, pemikiran, serta penemuan seseorang dalam berabad-abad lamanya. Tulisan dapat memengaruhi dan mengubah sikap masyarakat meskipun perlu waktu. Rasulullah SAW mampu melakukan perubahan terhadap tatanan kehidupan manusia berabad-abad lamanya karena ajaran-ajaran beliau yang bersumber dari Al-Qur’an yang kemudian dicatat dalam bentuk buku/kitab yaitu Al-Hadits. Sampai sekarang Al-Hadits merupakan sumber kedua setelah Al-Qur’an yang paling berpengaruh bagi tatanan kehidupan khususnya umat Islam.

 

 Motivasi Menulis  

Motivasi merupakan upaya penggunaan hasrat yang paling dalam untuk mencapai sasaran, membantu inisiatif, bertindak efektif, dan bertahan dalam menghadapi kegagalan (Lasa 2005: 114). Dalam bahasa sederhana motivasi adalah dorongan yang berasal baik dari dalam diri penulis sendiri maupun dari luar diri penulis. Motivasi sangat diperlukan oleh penulis khususnya bagi penulis pemula. Karena dengan motivasi, penulis bisa dengan lancar menuliskan idenya dan akan selalu semangat dalam menuliskannya.

Motivasi bisa datang dari dalam diri penulis sendiri (internal) ataupun dari luar diri penulis (eksternal). Kedua faktor inilah yang mempengaruhi motivasi seorang penulis dalam proses tulis menulisnya. Motivasi yang datang dari dalam diri penulis (internal) di antaranya niat, kemauan, dan semangat. Kalau dalam hati sudah ada niatan untuk melakukan proses tulis menulis, maka jalan menuju ke sana pun akan lancar. Apalagi ditambah dengan kemauan yang keras dan perjuangan yang penuh semangat, maka tak hayal lagi predikat penulis profesional pun akan dipegang.

Tidaklah cukup kalau hanya niatan, kemauan, dan semangat saja dalam memulai proses tulis menulis, tetapi juga dilengkapi dengan kemampuan. Kemampuan bukan diartikan sebagai bakat, karena bakat hanya mendukung satu persen dari proses menulis. Kemampuan di sini maksudnya adalah sesuatu yang bisa didapat dengan belajar dan berlatih. Jadi, kemampuan sesorang tidak datang begitu saja, tapi dilatih. Memang, ada orang yang dari kecil sudah terlihat kemampuannya, tapi tidak jarang pula yang justru banyak berhasil karena berlatih.

Adapun faktor eksternalnya adalah fenomena-fenomena yang ada di sekeliling diri penulis. Misalnya, melihat kondisi yang memprihatinkan, ada tindakan ketidakadilan, ingin menjadi kaya, memanfaatkan peluang, ingin naik derajatnya atau pangkatnya, ingin dikenal, menjaga gengsi, mengikuti kompetisi, dan masih banyak yang lainnya yang datang dari luar diri penulis. Semua itu memang sangat diperlukan oleh seorang penulis, karena penulis tanpa motivasi maka sulit sekali berkembang.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan motivasi dalam menulis yang setiap orang bisa berbeda-beda, di antaranya membuat target waktu dalam menulis (misalnya, tiga hari harus mendapatkan satu tulisan atau lebih), sering membaca buku, sering bergaul atau komunikasi dengan orang lain, rajin mencari peluang, cepat memperoleh informasi, dan berbagai cara yang lainnya.

Penutup

            Bagi penulis yang paling penting adalah mencoba dan berlatih menulis terus menerus. Ingat: Obah Mamah, Ubet Mesthi Ngliwet ‘Sapa Kang Teteken Katekunan Mesthi Bakal Katekan’. Semoga!

 

Sumber bacaan:

Asti, Badiatul Muchlisin. 2005. Da’i Bersenjata Pena. Bandung: Pustaka Ulumuddin.

Hs, Lasa. 2005. Gairah Menulis. Yogyakarta: Alinea.

Masri, R dan Yennie H. 2007. How to Write and Market A Novel. Bandung: Kolbu.

 


[1] disampikan dalam kegiatan pelatihan KIR di MTS Pakem Sleman Yogyakarta tanggal 20 Agustus 2008

[2] mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Universitas Negeri Yogyakarta

PERANAN BAHASA DAERAH DALAM PERSATUAN BANGSA

Oleh: Asef F. Amani

 

Bersamaan dengan hilangnya bahasa-bahasa daerah,

 kearifan lokal atau kearifan tradisional yang tersimpan

dalam tradisi lisan juga tidak dapat diselamatkan

(Sutarto 2001)

 

             Seegoisnya manusia atau seindividualisnya manusia, tetap saja manusia itu membutuhkan komunikasi dengan manusia lain. Manusia hidup tanpa komunikasi ibarat hidup tersendiri di tengah Padang Sahara atau di tengah hutan Kalimantan, terasa sepi dan hampa. Bahkan, orang yang abnormal pun membutuhkan komunikasi dengan lingkungannya, dengan orang-orang di sekitarnya ataupun dengan apapun yang ia temui.

            Bahasa adalah alat yang ampuh bagi manusia dalam berhubungan dengan sesuatu di luar dirinya. Dengan bahasa, manusia mampu beradaptasi dengan lingkungannya, dengan orang-orang di sekitarnya, dan dengan apapun bahkan dengan hewan sekalipun, bahasa memerankan peran yang penting bagi kehidupan manusia.

            Bahasa yang kita kenal selama ini terdiri dari dua ajenis, yaitu bahasa lisan dan tulisan. Padahal di alam raya ini tidak hanya lisan dan tulisan saja yang ada, tapi juga ada bahasa alam, bahasa hewan, bahasa isyarat, bahasa tubuh, dan bahasa-bahasa yang lain. Mengapa terdapat bahasa alam dan bahasa hewan, karena ternyata alam dan hewan juga terkadang memberikan informasi kepada kita tentang sesuatu hal. Misalnya, angin yang berhembus kencang memberi isyarat kepada kita akan terjadi angin ribut, angin puting beliung, bahkan badai. Awan hitam yang menyelimuti langit menandakan akan turun hujan. Hal ini pun merupakan bahasa alam yang disampaikan dengan tanda-tanda, karena pada hakekatnya bahasa adalah sistem tanda.

            Bahasa alam juga yang digunakan oleh para nelayan untuk menentukan arah letak dari daratan ketika mereka berada di lautan, yaitu dengan melihat rasi bintang. Hanya saja, berbeda antara bahasa yang digunakan manusia, alam, tumbuhan, dan hewan. Menurut H. G. Tarigan (dalam Hidayat 2006: 24-25), dalam bahasa manusia, hubungan antara simbol dan “sesuatu” yang dilambangkannya itu tidaklah merupakan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya atau sesuatu yang bersifat alamiah, seperti yang terdapat antara awan hitam dan turunnya hujan, ataupun antara tingginya panas badan dan kemungkinan terjadinya infeksi. Simbol atau lambang memperoleh fungsi khususnya dari konsensus atau mufakat kelompok atau konvensi sosial, dan tidak mempunai efek apa pun bagi setiap orang yang tidak mengenal konsensus tersebut.

            Bahasa menurut teori struktural, dapat didefinisikan sebagai suatu sistem tanda arbitrer yang konvensional (Soeparno 2002: 1). Artinya, bahasa memiliki ciri arbitrer dan konvensional. Ciri arbitrer, yakni hubungan yang sifatnya semena-semena antara signifie dan signifiant atau antara makna dan bentuk. Kesemena-menaan ini dibatasi oleh kesepakatan antar-penutur. Oleh sebab itu, bahasa juga memiliki ciri konvensional (kesepakatan) (Soeparno 2002: 2).

            Hal senada juga diberikan oleh Harimurti (dalam Hidayat 2006: 22), bahwa batasan bahasa adalah sebagai sistem lambang arbitrer yang dipergunakan suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri.

            Dari dua pengertian yang disampaikan di atas, dapat disimpulkan bahwasanya bahasa adalah sistem tanda yang arbitrer. Sifat kearbitreran bahasa ditentukan oleh konvensi di mana bahasa tersebut digunakan. Jadi, antara tempat yang satu dan tempat yang lain bisa berbeda-beda dalam menentukan konvensi suatu bahasa. Itulah kekhasan dari bahasa yang digunakan oleh manusia dibandingkan dengan bahasa-bahasa yang lain (alam, hewan, tumbuhan, dan lainnya).

 

Bahasa Daerah dan Bahasa Nasional

            Dikatakan sebagai pertentangan juga bisa, tapi dikatakan sebagai persatuan juga bisa. Hal ini dikarenakan bahasa daerah dan bahasa nasional hidup dalam satu wadah dan berkembangnya pun dalam satu wadah, yaitu Bangsa Indonesia. Dikatakan pertentangan, karena ada keinginan agar bahasa nasional bisa menjadi bahasa pemersatu setiap suku, ras, dan kebudayaan di Indonesia. Kesamarataan penggunaan bahasa nasional di hampir semua lini kehidupan warganya bisa menjadi bertentangan dengan bahasa daerah (bahasa ibu) yang mereka gunakan sebagai bahasa sehari-hari.  

            Bahasa nasional sebagai bahasa kedua yang menghendaki agar semua lapisan masyarakat menggunakannya, bisa berakibat bahasa daerah sebagai bahasa pertama sedikit demi sedikti terkikis. Apabila hal ini tetap dipaksakan, maka bahasa daerah yang kurang kuat alias sedikit penggunanya bisa menghilang bahkan tidak dikenal lagi di masa yang akan datang. Bisa-bisa terbentuk yang dinamakan pola substractive bilingual dalam masyarakat Indonesia, yakni penguasaan bahasa kedua (bahasa Indonesia) lambat laun menggantikan bahasa pertama (bahasa daerah) (Hidayat 2006: 39). Hal ini tentunya sangat disayangkan sekali, karena seperti yang dikatakan oleh Sutarto (2002: 65-66 via Hidayat 2006: 41) yang sudah dikutip di depan bahwa, bersamaan dengan hilangnya bahasa-bahasa daerah, kearifan lokal atau kearifan tradisional yang tersimpan dalam tradisi lisan juga tidak dapat diselamatkan.    

            Hal itu apabila dilihat dari sisi pertentangan, berbeda apabila dilihat dari sisi persatuan, maka antara bahasa daerah dan bahasa nasional bisa hidup berdampingan dengan harmonis. Di samping di sekolah-sekolah diajarkan bahasa Indonesia, juga tetap diajarkan bahasa asli mereka (bahasa daerah). Apabila hal demikian yang terjadi, maka tidak akan terjadi saling penghilangan satu sama lain. Bahasa nasional tidak menghapus bahasa daerah, begitu juga sebaliknya.

            Hal demikian sudah ada indikasi dari pemerintah, yaitu dengan dikeluarkannya garis kebijakan yang telah disusun dalam rangka pembinaan dan pengembangan bahasa daerah, yaitu seperti berikut ini:

“Bahasa-bahasa daerah yang masih dipakai sebagai alat perhubungan yang hidup dan dibina oleh masyarakat pemaikainya, dihargai dan dipelihara oleh negara oleh karena bahasa-bahasa itu adalah bagian daripada kebudayaan yang hidup”.1

 

            Kebijakan demikian tentunya memberi angin segar bahwasanya pemerintah benar-benar memperhatikan bahasa-bahasa daerah yang ada di tanah air ini. Bahasa-bahasa daerah yang ada merupakan kekayaan kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Perlu kiranya kita apresiasi kebijakan tersebut. Namun demikian, kita tidak hanya memberi aplaus saja terhadap kebijakan tersebut, tetapi juga kita wajib menjaga kelestarian bahasa daerah yang ada di tanah air ini.

 

Peran Bahasa Daerah dalam Persatuan Bangsa

            Persatuan bangsa Indonesia terbentuk bukan dari keseragaman, tetapi terbentuk dari keanekaragaman. Semboyan Bhineka Tunggal Ika selalu melekat di hati setiap warga negara Indonesia, karena dengan kebhinekaan inilah bangsa Indonesia ada.

            Bhineka Tunggal Ika tidak hanya menyangkut suku-suku, ras-ras, dan agama-agama saja, tetapi juga mencakup bahasa, karena pada hakekatnya bahasa melekat pada diri manusia. Sementara manusia itu sendiri merupakan pelaku kebudayaan.

            Apa jadinya apabila bangsa Indonesia ini terbentuk dari keseragaman budaya, adat-istiadat, agama, bahasa, dan keseragaman yang lain. Ada pendapat menarik dari Cuellar (1996: 72) yang dikutip oleh Hidayat (2006: 40), yaitu setiap usaha yang memaksakan keseragaman atas kebhinekaan ini merupakan tanda-tanda awal kematian. Pernyataan ini memang terdengar ekstrim, tetapi bukannya tanpa alasan, karena pada dasarnya Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda satu sama lain. Maka, apa jadinya ketika dunia ini semuanya sama, tidak ada perbedaan dan tentunya tidak ada warna warni kehidupan.

            Lebih lanjut dikatakan bahwa khusus dalam hubungannya dengan keberagaman bahasa dikatakan bahwa kebhinekaan bahasa (linguistic diversity) merupakan aset kemanusiaan yang tak ternilai harganya, dan hilangnya sebuah bahasa merupakan pemiskinan (impoverishment) akan sumber pengetahuan dan pikiran masyarakatnya.  

            Hidayat (2006: 40-41) mencontohkan bahwa khasiat buah mengkudu (Jw. Pace) sebagai obat berbagai penyakit sebenarnya jauh-jauh hari sudah diketahui oleh nenek moyang orang Jawa yang seringkali menganjurkan anak cucunya untuk mengalungkannya sewaktu terserang sakit gondong.    

            Hal ini sebagai bukti, bahwasanya bahasa derah ternyata mempunyai peran dan fungsi yang besar terhadap keberlangsungan suatu negara. Benar adanya apabila bahasa daerah hilang berarti kearifan lokal yang ada pun ikut hilang. Misalnya, mungkin kita tidak akan pernah tahu kalau ada dongeng tentang Sangkuriang, Malin Kundang, Joko Tarub, Legenda Roro Jonggrang, Tangkuban Perahu, dan lain-lain kalau tidak ada bahasa lokal yang berperan di sana. Mungkin kita juga tidak tahu kalau di dalam setiap cerita itu menyimpan nilai-nilai kearifan lokal yang tidak sedikit jumlahnya.

            Berkat bahasa daerah – yang kemudian dialihbahasakan ke dalam bahasa nasional – itulah kita bisa tahu tentang berbagai legenda, mite, dongeng, dan berbagai cerita masa lalu yang lain. Kita tidak hanya sekadar tahu, tapi juga diajarkan tentang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Apa yang boleh diperbuat dan apa yang tidak boleh diperbuat semua ada di dalam cerita-cerita tersebut. Pada akhirnya kita mengerti arti dari nilai yang baik dan nilai yang tidak baik.

            Ambil contoh lagi misalnya bahasa Jawa. Di dalam bahasa Jawa terdapat tingkatan-tingkatan mulai dari yang rendah (ngoko), tengah (krama madya), sampai ke tingkatan tinggi (krama inggil). Tingkatan-tingkatan tersebut bukannya tanpa makna, tetapi mengandung nilai-nilai (adat sopan santun) yang langsung teraplikasi di dalam tingkah laku kehidupan pengguna bahasa tersebut (khususnya orang Jawa). Tingkatan-tingkatan tersebut kemungkinan berbeda dibandingkan dengan bahasa yang lain. Karena memang setiap bahasa mempunyai kekhasannya masing-masing.

            Perbedaan yang demikian itu, bukannya kemudian dipertentangkan. Akan tetapi, justru ini menjadi bahan contoh bagi bahasa yang lain bahwasanya ada bahasa yang lain yang berbeda dengan bahasa daerah yang dimiliki. Di sinilah kemudian sikap saling menghargai terbentuk. Antarpemilik bahasa daerah bisa saling mengetahui bahasa di antara keduanya, sehingga timbul rasa menghargai sekaligus timbul rasa memiliki sebagai suatu kekayaan kebudayaan Indonesia.

            Kita tahu bahwa, fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Akan tetapi, tidak hanya sebatas alat komunikasi, bahasa pun mempunyai fungsi yang lebih khusus lagi. Para ahli mencoba menerangkan berbagai macam fungsi khusus dari bahasa tersebut. Seperti Roman Jakobson yang membagi fungsi bahasa menjadi enam fungsi. Begitu juga dengan Mary Finocchiaro yang membagi fungsi bahasa menjadi enam fungsi.

Berbeda dengan kedua linguis tersebut, P. W. J. Nababan (dalam Hidayat 2006: 29), seorang linguis Indonesia, membagi fungsi bahasa sebagai komunikasi dalam kaitannya dengan masyarakat dan pendidikan menjadi empat fungsi, yaitu 1) fungsi kebudayaan, 2) fungsi kemasyarakatan, 3) fungsi perorangan, dan 4) fungsi pendidikan.

Kita ambil saja dua fungsi yang dipaparkan oleh Nababan tersebut, yaitu fungsi kebudayaan dan fungsi kemasyarakatan. Fungsi kebudayaan dari bahasa adalah sebagai sarana perkembangan kebudayaan, jalur penerus kebudayaan, dan inventaris ciri-ciri kebudayaan. Sedangkan fungsi kemasyarakatan bahasa menunjukkan peranan khusus suatu bahasa dalam kehidupan masyarakat. Nababan mengklasifikasikan fungsi kemasyarakatan bahasa ke dalam dua bagian, yaitu berdasarkan ruang lingkup dan berdasarkan bidang pemakaian.

Yang pertama, mengandung “bahasa nasional” dan “bahasa kelompok”. Bahasa nasional berfungsi sebagai lambang kebanggaan kebangsaan, lambang identitas bangsa, alat penyatuan berbagai suku bangsa dengan berbagai latar belakang sosial budaya dan bahasa, dan sebagai alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya. Yang kedua, bahasa kelompok adalah bahasa yang digunakan oleh kelompok yang lebih kecil dari suatu bangsa, seperti suku bangsa atau suatu daerah subsuku, sebagai lambang identitas kelompok dan alat pelaksanaan kebudayaan kelompok itu.

Tampak jelas dalam pemaparan Nababan tersebut bahwasanya, fungsi bahasa sangat penting sekali khususnya dilihat dari fungsi kebudayaan dan fungsi kemasyarakatan di samping juga fungsi yang lain. Penting bagi suatu negara memiliki bahasa nasional yang berfungsi sebagai alat pemersatu berbagai suku bangsa yang berlatar belakang berbeda-beda. Begitu pula dengan bahasa daerah berfungsi sangat penting bagi kelangsungan kehidupan suatu kebudayaan daerah tertentu.    

 

Revitalisasi Bahasa Daerah

            Mengapa kita perlu memvitalkan kembali bahasa daerah di saat-saat sekarang ini. Di tengah arus globalisasi yang mendunia ini, perlu secepatnya kita berbenah diri sebelum terlambat. Dikarenakan kalau kita lambat dalam menghadapinya, maka yang terjadi justru kita terbawa arus globalisasi tersebut. Maka dari itu, dari sisi bahasa perlu kiranya kita menguatkan kembali peran dari bahasa lokal atau bahasa daerah dalam menghadapi arus globalisasi tersebut.

            Contoh nyata saja yang sekarang kita alami, yaitu begitu derasnya arus Bahasa Inggris masuk ke dalam setiap sendi kehidupan kita. Sadar atau tidak sadar, setiap yang kita lihat, dengar, rasakan, hampir sebagian besar berbahasa Inggris selain juga bahasa yang lain – tetapi bahasa Inggrislah yang sekarang sedang menguasai dunia. Mulai dari barang-barang yang kecil seperti pena, pensil, sandal, sampai ke barang-barang yang besar seperti TV, Komputer, Mobil, dan lain-lain hampir semuanya terpampang bahasa Inggris. Bahkan ada juga yang diproduksi oleh pabrik Indonesia, tetapi menggunakan Bahasa Inggris baik di dalam kemasannya ataupun dalam hal pemasarannya.

            Dilihat dari sisi pendidikan pun sama, hampir di setiap sekolah terdapat pelajaran bahasa Inggrisnya, bahkan tingkatan TK-SD pun sudah mengenal Bahasa Inggris. Lantas apakah bahasa daerah atau bahkan bahasa nasional pun bisa berlaku demikian. Belum tentu.

            Kita bisa tengok di dalam pendidikan kita, bahasa daerah hanya sebatas pelajaran muatan lokal yang kadang merupakan pelajaran yang kurang disukai, kalah dengan pelajaran matematika, IPA, atau Bahasa Indonesia. Bahkan mungkin juga dalam menerangkan pelajaran muatan lokal tersebut menggunakan bahasa Indonesia. Apabila memang demikian, perlu sekiranya kita rubah mulai dari sekarang.

            Oleh karena itu, diperlukan usaha yang keras dari semua pihak dalam memvitalkan kembali peran dari bahasa daerah sebagai bahasa asli daerah setempat. Tanggung jawab ini tidak bisa hanya diserahkan begitu saja kepada pemerintah lewat dewan bahasa atau apapun. Akan tetapi, semua pihak mulai dari lingkungan keluarga sampai dengan lingkungan daerah setempat untuk bisa mempertahankan kearifan lokal berupa bahasa daerah tersebut.

            Seperti yang diungkapkan oleh Hidayat (2006: 43) salah satu upayanya adalah memberi keleluasan dalam mengembangkan program pengembangan bahasa daerahnya. Di masa-masa mendatang program pengajaran bahasa daerah di sekolah-sekolah tidak hanya sebatas memfungsikan bahasa daerah sebagai bahasa perantara lalu digantikan dengan bahasa Indonesia (substractive bilingual), tetapi harus mencanangkan pendidikan untuk mencetak anak didik yang di samping menguasai bahasa nasional juga mampu menggunakan bahasa ibunya dengan baik (additive bilingual).

            Tentunya ini hanya sebagian kecil saja usaha yang perlu dilakukan dalam memvitalkan kembali peran bahasa daerah. Masih terbuka luas kesempatan dan cara yang lain agar bahasa daerah bisa menjadi kekuatan bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi daerah yang bersangkutan. 

 

Penutup

            Manusia di manapun hidup pasti membutuhkan komunikasi. Oleh karena itu, komunikasi menjadi barang penting bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Dalam hal ini bahasa sebagai alat dalam berkomunkasi menjadi sangat penting perannya di dalam menghadapi permasalahan yang ada di tanah air ini. Berbicara tidaklah cukup untuk megatasi permasalahan tersebut. Perlu ada suatu tindakan nyata di dalam kehidupan sehari-hari demi persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia.  

 

Asef F. Amani

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNY

 

Catatan

1 Diambil dari buku Sosiolinguistik, yang ditulis oleh I Dewa Putu Wijana dan Muhammad Rohmadi, Yogyakarta: Putaka Pelajar, 2006. Cet. Ke-1, h. 32

 

Sumber Bacaan

Hidayat, Asep Ahmad. 2006. Filsafat Bahasa Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna, dan Tanda. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Soeparno. 2002. Dasar-dasar Linguistik Umum. Yogyakarta: PT Tiara Wacana.

Wijana, I Dewa Putu dan Muhammad Rohmadi. 2006. Sosiolinguistik Kajian Teori dan Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

(Artikel ini termuat dalam Jurnal Kreativa tahun 2008 yang diterbitkan oleh LPM Kreativa FBS UNY)

Sastra dan Media Kampus

Posted: September 8, 2008 in Artikelku
Tag:,

SASTRA DAN MEDIA KAMPUS

Oleh: Asef Farid Amani

 

            Media masa – terutama media cetak – rupanya sudah mulai mempunyai tempat di hati para pengarang sastra atau bisa dibilang sastrawan – walaupun tidak semuanya dikatakan sastrawan – atau bisa disebut sebagai creator karya sastra. Pasalnya media masa merupakan lahan yang empuk untuk mempublikasikan karya-karya yang mereka ciptakan. Sebut saja media koran dan majalah (Kompas, Koran Tempo, Sindo, KR, Minggu Pagi , Horison, Mata Baca, dan seabrek media yang lain). Dan dirasakan pula media-media tersebut memang sengaja membuka rubrik bagi para pengarang untuk berekspresi dan mengirimkan karya-karyanya, baik berupa puisi, cerpen, atau esai-esai sastra.

            Tak kalah menariknya adalah di dunia kampus dunianya mahasiswa yang penuh dengan gejolak dan ekspresi jiwa. Di dunia kampus sendiri sudah tidak asing lagi yang namanya media kampus, baik berbentuk media cetak (jurnalistik) ataupun elektronik (Broadcasting). Media cetak sudah lama tumbuh dan berkembang di daerah kampus. Yang namanya pers mahasiswa sudah tidak asing lagi di telinga mahasiswa. Hampir di setiap lembaga yang ada di kampus baik dari tingkatan universitas maupun tingkatan fakultas mempunyai sebuah badan yang menangani dunia jurnalistik. Dan tak jarang pula di setiap media yang dikeluarkan terdapat rubrik atau ruang untuk sastra, walaupun ada juga yang tidak memuat rubrik tersebut. Baik dengan nama Sastra, Budaya, atau apapun namanya.

            Seperti halnya di FBS (tempatnya mahasiswa yang penuh dengan ekspresi). Lembaga mahasiswa yang ada, misalnya DPM, BEM, HIMA, dan UKF dapat dipastikan mempunyai bidang yang menangani jurnalistik dan diyakini menerbitkan sebuah media cetak baik berupa Jurnal, Buletin, atau hanya selebaran-selebaran yang disebar dan ditempel di mana-mana. Setiap media yang dikeluarkan dapat dipastikan terdapat rubrik atau ruangan khusus untuk karya sastra. Dengan nama rubrik yang bermacam-macam dan diisi dengan jenis karya sastra yang berbeda, misalnya, puisi, cerpen, esai, atau yang lainnya. Ambil contoh Buletin Eksis yang dikeluarkan oleh BEM FBS, terdapat rubrik yang memuat karya sastra berupa puisi dan cerpen serta kadang-kadang pantun. Karya-karya tersebut buah tangan dari para mahasiswa FBS sendiri. Ambil contoh juga Buletin Mozaik karya HIMA PBSI. Walaupun berisi berita tentang HIMA atau kegiatan HIMA, tetapi terselip juga ruang untuk karya-karya sastra. Puisi, cerpen, selalu menghiasi Buletin tersebut.

Tak ketinggalan pula yang berbentuk selebaran-selebaran yang ditempel ataupun disebar. Ambil contoh misalnya, Sastra Tempel buah karya KMSI yang terbit setiap bulan. Puisi, cerpen, dan gambar-gambar menghiasi lembaran-lembaran tersebut. Dan ditambah pula dengan catatan-catatan berupa esai baik yang menyangkut kebudayaan maupun sastra. Dan beberapa contoh yang lain yang tak bisa disebutkan satu persatu. Di luar FBS pun diketahui melakukan hal yang sama, setiap media yang diterbitkan dapat dipastikan terdapat ruang untuk karya sastra. Para pengarangnya pun tidak lepas dari dunia kampus, yaitu para mahasiswa itu sendiri, baik dari satu fakultas maupun antarfakultas dan tak jarang pula dari luar kampus yang ikut urun rembug. Dan konsumsinya pun dari kalangan mahasiswa itu sendiri, meski ada juga yang dilempar ke pasaran.

Di sini bisa dilihat bahwa geliat sastra terus menjamur di lingkungan kampus dan terus berkembang. Walaupun dengan media publikasi yang terkesan apa adanya dan cakupan penyebaran yang terbatas serta dana yang tak banyak. Tetapi dengan bermodalkan semangat untuk berkarya, semangat untuk terus menerbitkan media, maka nafas media dan terutama sastra akan terus berhembus.

Bila dihitung dengan rumus statistik, sebut saja misal setiap bulan satu kali terbit untuk satu lembaga, sementara di FBS terdapat 13 Ormawa. Bisa dihitung bahwa setiap bulan ada 13 karya cerpen dan 13 Karya puisi, bila dijumlahkan berarti terdapat 26 karya. Kemudian diakumulasikan dalam satu tahun berarti muncul sebanyak 312 karya sastra (cerpen dan puisi), baik berbahasa Indonesia maupun Jawa, Inggris, Prancis, atau Jerman, dan otomatis muncul 312 pengarang (dikurangi dengan pengarang yang selalu muncul). Ini sungguh angka yang luar biasa. Ini belum total keseluruhan, mungkin dalam satu lembaga menerbitkan dua kali dalam sebulan, atau ada yang memakai sistem berkala (kala terbit, kala tidak) atau juga yang tidak pernah menerbitkan. Belum lagi untuk esai-esai atau artikel mengenai sastra atau budaya yang mengisi rubrik tersebut. Seandainya hal ini terrealisasikan dengan nyata (312 karya setiap tahun) dan kalau bisa dikumpulkan menjadi antologi sastra media kampus (koran kampus), maka akan menunjukkan sebuah prestasi yang gemilang. Dan akan dicatat sebagi sebuah kebanggaan. Ini baru satu fakultas, seandainya ditambah dengan faklutas lain, akan menambah jumlah angka yang signifikan.

Tetapi sangat disayangkan hal ini tidak terrealisasi dengan nyata di dunia kampus, padahal sungguh-sungguh sebuah peluang yang bagus terutama bagi para pengarang karya sastra yang masih belum percaya diri (PD) untuk mengirimkan karyanya di media luar kampus (media lokal maupun nasional) atau yang sering ditolak redaksi media tertentu. Ternyata media di kampus pun kalau memang benar-benar memanfaatkannya akan sangat berguna sekali. Karya kita bisa dibaca orang lain walaupun dari segi kualitas masih sedikit kalah dengan media-media (tingkatan Kompas, Koran Tempo, Sindo,  KR, Horison, dll) dan kita pun bisa terkenal di kampus walaupun belum terkenal di dunia luar. Tetapi dalam proses pembelajaran hal itu bisa dilakukan.

Terakhir mudah-mudahan geliat sastra kampus akan terus menggeliatkan tubuhnya dan akan terus bernafas tiada henti sampai ajal kan menjemput. Bagi teman-teman di lembaga resmi atau tidak resmi diharapkan akan terus meningkatkan prestasinya dan akan terus berjuang untuk kemajuan sastra di Indonesia. Tak lupa pula perhatian dari dekanat sangat diharapkan. Dan kepada para pengarang (creator), selamat mencoba!

 

Yogyakarta, 10 Maret 2007

 

(Artikel ini termuat dalam Buletin Aksara terbitan LPM Kreativa FBS UNY)