Archive for the ‘Catatan Bisnis’ Category

Mobil Penyandang Cacat

Mobil Penyandang Cacat

 

Bos Karoseri Ciptakan Mobil Penyandang Cacat

TERDORONG keinginan membantu para penyandang cacat untuk bisa mengendarai mobil, Agus Setyo (43) menciptakan mobil yang ramah terhadap mereka. Uniknya, desain mobil merupakan perpaduan antara bodi mobil dan mesin sepeda motor.

Ditemui di bengkelnya, kemarin, Pemilik Karoseri Mageda Magelang itu menceritakan, mobil tersebut disebutnya dengan Mobil Langsing. Sebab, dari bentuk sudah seperti mobil berukuran kecil, mungil, dan langsing.

“Dipandang dari luar seperti mobil karena bodi membentuk mobil dan juga beroda empat. Tapi dari mesin menggunakan mesin motor. Begitu juga dengan kemudi memakai setir motor,” ujarnya.

Dia mengaku, mobil langsing rancangannya itu merupakan pengembangan dari motor roda tiga. Mobil ini bermesin 110 cc dan diklaim irit bensin karena satu liter bensin bisa mencapai 45 kilometer. Ukuran mobil panjang 2,75 m, lebar 1 m, dan tinggi 1,5 m.

“Saya gunakan mesin motor matik, bisa dari Honda, Yamaha, atau Suzuki. Bentuk sudah tidak lagi motor karena bodi motor tidak ada, semua diganti dengan kerangka baja yang didesain menyerupai mobil,” katanya.

Mobil ini memang didesain untuk penyandang cacat kaki. Karenanya, semua kendali ada di tangan. Lebih memudahkan lagi, mesin berjenis matik sehingga tidak perlu repot transmisi gigi. Empat roda yang ada semuanya terpasang rem cakram sehingga lebih aman.

“Untuk kenyamanan tempat duduk, dipasang tempat duduk mobil baik pengemudi maupun penumpang. Mobil ini muat 2-3 orang, satu pengemudi di depan dan lainnya di belakang. Ada satu tempat lagi di paling belakang untuk tempat barang termasuk kursi roda,” paparnya.

Hingga saat ini, Agus beserta para karyawannya tengah bekerja keras menyelesaikan satu prototipe. Biaya pembuatan satu unit berkisar Rp 30 juta sampai Rp 32 juta. Rencana, produk jadi dibandrol Rp 40 juta.

“Sementara kita buat satu dulu untuk contoh dan ditarget selesai Februari 2012 dan dapat segera melenggang di jalan raya laiknya city car,” imbuhnya.

Secara umum, ia mengaku tidak ada kendala. Hanya saja perlu suntikan modal agar proyek ini berjalan lancar. “Tujuan kami membantu mereka yang cacat untuk bisa menikmati kenyamanan dalam berkendara. Harapannya, ke depan bisa diproduksi masal,” harapnya. (Asef F Amani)

Ket: Dimuat Suara Merdeka

Iklan
Pusat Kuliner Magelang

Pusat Kuliner Magelang

Pusat Kuliner Tingkatkan Kunjungan Wisatawan

HADIRNYA pusat kuliner yang ada di kawasan Alun-alun Kota Magelang disambut baik para pelaku pariwisata. Keberadaan area yang terlihat lebih bersih dan tertata rapi itu memunculkan optimisme baru bahwa kunjungan wisatawan ke Kota Getuk akan meningkat.

Pengamat sekaligus pelaku pariwisata Kota Magelang, Edi Hamdani menilai, tidak berlebihan apabila pusat kuliner itu menjadi potensi wisata baru yang dapat mendatangkan banyak wisatawan.

“Kalau boleh mencontoh, bisa melihat Kota Solo dan Jogja yang memiliki banyak pusat kuliner. Tidak sedikit wisatawan tertarik dan senang menikmati aneka menu yang disajikan selain juga nyaman dengan tempatnya,” ujarnya.

Di luar kekurangan dan kelebihannya, pusat kuliner yang ada di alun-alun tersebut patut diapresiasi. Bagaimanapun hal itu merupakan upaya pemerintah dalam menata area publik.

“Alun-alun adalah wajah kota. Kalau kondisinya kotor dan semrawut, kita juga yang malu. Karena itu, penataan dengan memunculkan pusat kuliner ini sedikit demi sedikit merubah alun-alun menjadi tempat yang nyaman,” katanya.

Sebagai pelaku pariwisata, pihaknya juga siap ikut mempromosikan kawasan yang belum bernama itu meski bukan wewenangnya. Minimal dipromosikan kepada para tamu. Tamu hotel bisa diarahkan untuk mengunjunginya baik sekadar melihat maupun sekaligus menikmatinya.

“Baru sebatas itu yang bisa kami lakukan. Tidak menutup kemungkinan lebih dari itu, bersama pemerintah mempromosikannya ke dunia luar,” tandas bapak yang juga ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Magelang itu bersemangat.

Pihaknya juga mengajak kepada para pelaku industri perhotelan untuk ikut mempromosikan pusat kuliner itu. “Tidak hanya di kawasan alun-alun, di titik-titik yang lain juga perlu dukungan promosi seperti area Sigaluh, Pecinan, dan Shopping,” imbuhnya.

Pusat kuliner ini sendiri baru dibuka awal Januari 2012. Di sisi utara, ada 44 tenda seragam warna orange menyala yang dihuni para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang sebelumnya biasa mangkal di alun-alun. Sementara di sisi selatan ada angkringan (kucingan) yang hanya buka di malam hari.

Penataan kawasan alun-alun ini menelan biaya lebih kurang Rp 2,1 miliar. Tak hanya PKL, area parkir baik motor maupun mobil pun ditata termasuk penggantian trotoar dari paving ke keramik.

“Kami harap uang sebanyak itu tidak terbuang sia-sia. Penataan PKL, parkir, dan trotoar bagian dari penataan alun-alun. Tujuannya, agar area publik ini enak dilihat dan nyaman dinikmati,” ujar Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Kota Magelang, Drs Isa Ashari MM. (Asef F Amani)

Ket: Dimuat Suara Merdeka

Seni Kaligrafi Tripleks

Posted: Maret 31, 2011 in Catatan Bisnis

WIRAUSAHA

Seni Kaligrafi Tripleks

Olah Tripleks Jadi Kaligrafi Bernilai Seni Tinggi

 

Seni Kaligrafi Triplek

KARYA kaligrafi berbahan kaca, kuningan, atau ukiran kayu memang sudah banyak digarap. Akan tetapi, seni menulis indah dengan pena bermediakan kayu tripleks mungkin baru Fuad WSA (49) yang mengerjakannya.

Ya, warga Kedungsari Magelang inilah yang membuatnya pertama kali pada 1998 lalu. Bermula dari permintaan membuat kaligrafi untuk hiasan ma

sjid, Fuad menemukan bahan tripleks sebagai medianya karena memiliki kesan timbul dan “nyeni” saat ditempelkan di dinding masjid.

“Dibandingkan kaligrafi yang ditulis langsung dengan cat di atas dinding, memakai tripleks lebih terlihat unik, menarik, dan bernilai seni. Lagipula, daya tahannya juga berlangsung lama karena saat dinding dicat ulang, kaligrafi masih bisa terpakai dan tinggal ikut dicat ulang,” ujarnya.

Alasan lain, suami dari Tuminah itu memilih tripleks karena barangnya mudah didapat dengan harga yang murah dibandingkan kaca atau kuningan. Juga tripleks yang digunakan tidak harus baru, yang lama atau bekas pun bisa dimanfaatkan asalkan kondisinya masih mulus dan kuat saat digergaji.

Prosesnya sendiri, kata Fuad gampang-gampang susah. Faktor rasa seni dan suasana hati (mood) berperan penting dalam membuatnya. Maka jangan heran kalau proses pembuatan dari membuat pola, mal, pemotongan, hingga penempelan di media tripleks dan sentuhan akhir (finishing) berupa pengecatan dan dipasangi pigura membutuhkan waktu yang tidak singkat.

“Untuk ukuran kecil, 30cm x30 cm paling tidak diselesaikan kurang lebih selama satu bulan. Sedangkan ukuran besar lebih kurang selama 6 bulan penggarapan,” katanya yang pernah membuat kaligrafi arab berbentuk Kiswah (selubung permadani penutup Kakbah) berukuran 215 cm x114 cm selama kurang lebih 6-7 bulan.

Seni Kaligrafi Tripleks

Menurutnya, proses pembuatan kaligrafi tidak boleh sembarangan. Apalagi kaligrafi tersebut berupa ayat-ayat suci Al-Quran yang tidak hanya sebagai hiasan, tapi juga memiliki nilai tinggi. Ketekunan, ketelitian, dan kesabaran menjadi pokok dalam proses pembuatannya.

Alumnus ASRI Jogja ini berkeyakinan apabila dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan benar, pekerjaan tersebut dapat terselesaikan dengan baik dan mampu mendatangkan rezeki. Menariknya, meski selalu menghasilkan karya bernilai seni dan ekonomi tinggi, ia tidak berambisi membisniskan keterampilannya tersebut.

“Saya membuatnya dengan rasa cinta seni. Apabila ada yang berminat membelinya, saya persilahkan tanpa mematok berapa rupiah harga karya tersebut,” ungkapnya sambil menambahkan, pernah satu karyanya dipinang seharga Rp 3,5 juta.

Selama hampir 12 tahun, bapak dua putra ini sudah membuat kurang lebih 70 karya berbagai macam tulisan ayat Al-Quran seperti Surat Yasin, Surat Al-Fatihah, dan Ayat Kursi, tulisan Asmaul Husna, tulisan Allah dan Muhammad, dan sebagainya. Dari karyanya tersebut, ia mampu mencukupi kehidupan ekonomi keluarganya dan masih terus berkarya.

Meski tidak untuk dibisniskan dan diproduksi masal, Fuad masih memiliki harapan bahwa karyanya bisa dikenal luas masyarakat dan menjadi kebanggan Magelang, tanah kelahirannya. Maka, ia pun membuka tangan lebar-lebar apabila pemerintah setempat mau mengajaknya berpameran atau memajang karyanya di ruang pamer yang sudah tersedia.

 

(Asef F Amani)

 

(Dimuat di Suara Merdeka, Kamis 31 Maret 2011)

 

 

WIRAUSAHA

Kerajinan Tatah Kayu Ampel

Olah Limbah Kayu Jadi Kerajinan Menakjubkan

 

Kerajinan Tatah Kayu Ampel

IDE kreatif bisa datang kapan saja dan di mana saja. Bahkan, bisa datang secara tiba-tiba. Tapi justru kedatangan yang singkat tersebut dapat membawa seseorang menuju gerbang kesuksesan. Tidak sedikit orang yang sudah sukses, bermula dari ide yang datang secara tiba-tiba bahkan hanya selintas tersebut.

Lantas bagaimana mewujudkan ide kreatif tersebut menjadi kenyataan dan membawa ke arah kesuksesan? Yoga Siratmoko (41) mempunyai jawabannya. Pemuda asal Jurangombo Magelang Selatan ini menyatakan, ide kreatif yang muncul tiba-tiba harus segera ditangkap lalu direalisasikan dalam bentuk tindakan nyata.

Tidak salah ia berpendapat demikian, karena apa yang dikerjakannya saat ini sesuai dengan teori tersebut. Menemukan ide dari melihat tumpukan limbah kayu di industri pengolahan kayu, Yoga langsung mewujudkannya dalam bentuk kerajinan “tatah kayu” yang menakjubkan, “nyeni”, dan bernilai ekonomis tinggi.

Ya, Yoga menemukan ide kerajinan tersebut yang kemudian diberi nama Kerajinan Tatah Kayu Ampel Handycraft. Bertempat di Jl Ampel V Jurangombo Magelang Selatan, ia mengerjakan kerajinan tersebut yang kini sudah berjalan sekitar 5 tahun.

Ditemui di rumah produksinya yang sederhana, Yoga menjelaskan ide tersebut datang saat ia bekerja di pabrik pengolahan kayu. Limbah kayu hasil olahan pabrik yang menumpuk tidak berguna, pikiran kreatifnya jalan untuk menjadikan limbah tersebut lebih bernilai.

“Saya pun coba-coba membuat bentuk binatang yang disusun dari potongan-potongan kayu sengon yang dikeringkan terlebih dahulu untuk mengurangi kadar air. Dengan bantuan lem kayu dan paku yang terbuat dari bambu, saya rangkai menjadi bentuk semut dan laba-laba. Ternyata hasilnya bagus,” kata pria yang memiliki basic seni lukis ini.

Karena hanya coba-coba, ia meletakkan karyanya tersebut hanya di rumah sebagai hiasan. Suatu ketika, ada teman dari istrinya (Kuntiati) yang mengagumi karyanya tersebut dan langsung dibelinya dengan harga murah pada saat itu.Merasa karyanya disukai orang lain, Yoga makin bersemangat untuk membuat lebih banyak lagi bentuk binatang lainnya.

Tidak hanya semut dan laba-laba, ia pun membuat lebih beragam lagi dengan tingkat kesulitan yang makin tinggi. Akhirnya bentuk naga, burung rajawali, ayam, tokoh kartun Hulk, alien, dan sebagainya termasuk karya yang menjadi masterpiecenya yakni pertarungan antara naga dan burung phoenix. Sampai saat ini, total karyanya lebih dari 200 karya.

Seiring makin dikenal luas, pesanan pun terus mengalir baik dari wilayah Magelang dan sekitarnya maupun dari luar bahkan pernah mendapat pesanan dari Singapura. Terakhir ia mendapat order dari Walikota Magelang dan sejumlah pejabat penting lainnya di lingkup Magelang.

“Karena pesanan makin banyak, saya pun mengajak kawan-kawan di sekitar rumah untuk membantu pengerjaan kerajinan ini. Sekarang ada sekitar 10 orang perajin mengerjakan semua pesanan tersebut,” imbuhnya.

Kerajinan Tatah Kayu Ampel

Lima tahun berjalan, usaha kerajinan tatah kayu milik Yoga pun kian membesar dan dikenal publik. Sayangnya, publik Magelang sendiri masih belum banyak mengenal usaha kreatifnya. Karenanya, ia berharap pada langkah pemerintah yang membuat Ruang Pamer Mudalrejo di depan Taman Kyai Langgeng (TKL) Magelang Tengah sebagai tempat memajang aneka produk UMKM di seluruh Kota Magelang.

Dengan dibantu Dinas Koperasi, Industri, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Magelang, karya kreatifnya mendapat tempat di ruang pamer tersebut. Direncanakan, bulan depan ia sudah bisa memajang karyanya dan siap menerima pesanan dari masyarakat yang tertarik dengan karyanya tersebut.

“Kami hanya berharap, masyarakat bisa melihat dan menilai karya kami sehingga kami bisa mengembangkan lebih baik lagi ke depannya,” ujarnya.

Hanya saja, bagi masyarakat yang ingin memesannya harus sedikit bersabar karena proses pengerjaannya yang membutuhkan waktu agak lama. Apalagi dengan proses pembuatan yang masih mengandalkan keterampilan tangan (handmade), waktu pengerjaan ditentukan oleh ukurang dan tingkat kerumitannya.

Yuni T Purwanto (32), salah seorang perajinnya menuturkan, untuk ukuran kecil dan bentuk binatang yang sederhana, lama pengerjaan 2-3 hari. Sementara yang lebih besar dan rumit, bisa mencapai 2 minggu hingga satu bulan mulai dari pembentukan pola, pemotongan, hingga penyambungan dan pengecatan.

“Namun, tidak perlu khawatir. Meski waktunya lama, dari sisi kualitas sangat terjaga. Kami sangat menjaga kualitas produk karena kami tidak ingin konsumen kecewa. Kerajinan ini butuh ketekunan dan ketelitian sehingga produk yang dihasilkan sempurna dan memuaskan konsumen,” katanya.

Soal keuntungan, baik Yoga maupun Yuni dengan rendah hati hanya mengungkapkan hasil yang didapat cukup untuk makan sehari-hari, menggaji perajin, dan berbelanja bahan baku lagi. Namun dilihat dari harga per karyanya yang tidak murah, setidaknya Yoga dan Yuni mengantongi keuntungan jutaan rupiah.

Harga memang tidak murah karena sebanding dengan tingkat kesulitan dan daya kreativitasnya. Satu buah kerajinan berbentuk burung rajawali dijual berkisar Rp 1,5 juta atau yang lebih mahal lagi berbentuk naga dan burung phoenix seharga Rp 4,5 juta. Tapi untuk bentuk serangga-seranggaan lebih murah berkisar Rp 100 ribuan per buah.

“Harga tergantung model dan tingkat kerumitan pembuatannya. Semakin rumit pembuatannya, semakin mahal harganya,” tandasnya.

Ke depan, Yoga dan Yuni masih memiliki ambisi untuk terus membesarkan usahanya tersebut. Apalagi, usaha tersebut merupakan yang pertama dan satu-satunya di Magelang bahkan di Indonesia karena belum ada usaha lain yang menyerupainya.

“Kalau selama ini banyak kerajinan kayu berkategori ukiran atau pahatan, kerajinan kita berbeda dari kerajinan kedua kategori tersebut. Karena itu pula Pak Wali (Walikota Magelang, red) menyebut usaha kita sebagai kerajinan tatah kayu. Kita pun akan terus mempertahankan usaha ini dan terus membesarkannya serta menjadi kebanggaan Magelang,” jelasnya.

(Asef F Amani)

NB: Dimuat Suara Merdeka (16-17 Maret 2011)

WIRAUSAHA

Kerajinan Sandal Kertas “Dluwang”

Ubah Sampah Kertas Jadi Sandal dan Tas

Kerajinan Sandal dan Tas Kertas "Dluwang"

DI satu sisi sampah memang tidak ada habisnya terus diproduksi. Di sisi lain, sampah pun tidak ada habisnya untuk digali manfaatnya mulai dari dibuat pupuk hingga menjadi kerajinan. Kerajinan inilah yang kini terus digali potensinya oleh orang-orang kreatif menjadi produk yang unik dan menarik.

Salah satunya Yunnas Habibillah (28), anak muda kreatif yang membuat kerajinan sandal dan tas berbahan sampah kertas dengan nama Dluwang. Sampah kertas terutama koran dan majalah yang banyak menumpuk di tempat sampah, diolahnya menjadi kerajinan yang kini mampu membawanya menjadi perajin sekaligus pengusaha sukses beromset jutaan rupiah.

Berangkat dari keisengannya mencoba-coba membuat sesuatu yang baru, pria kelahiran Ngawi 1 September 1982 ini mendapat ide untuk membuat sesuatu dari sampah kertas yang menumpuk di kamar kosnya. Ide liarnya pun bermuara pada pembuatan sandal yang waktu pertama kalinya digunakan sendiri untuk aktivitas sehari-hari.

Kebetulan, pada saat itu sekitar tahun 2008 belum banyak produk sandal kertas di pasaran. Alhasil, banyak teman-teman kampusnya yang tertarik dengan sandal kertas miliknya karena unik. Tidak berselang lama, teman-temannya meminta dibuatkan sendal kertas mirip miliknya. Dengan yakin ia pun menyanggupinya dan langsung membuatkan sandal kertas untuk kawan-kawannya tersebut.

“Lama-lama, makin banyak yang minta dibuatkan lagi. Saat itu pula saya mencoba membuat produk baru lagi yakni tas terutama tas cewek. Ternyata, banyak pula yang suka dan tidak jarang teman-teman memesan sekaligus sandal dan tas buatan saya,” ujarnya saat ditemui di rumah produksinya di Kutu Patran Sinduadi Mlati Sleman Yogyakarta.

Mahasiswa Filsafat UGM ini mengatakan, rasa ragu sempat merasukinya saat pertama kali melakukan percobaan pembuatan sandal dan tas kertas ini. Sebab, bahan kertas mudah robek dan hancur bila terkena air. Padahal, sandal dan tas seringkali terkena air atau tergores benda yang membuatnya robek.

Percobaan pun terus dilakukan hingga pada akhirnya menemukan teknik yang membuat produknya tidak mudah robek dan tahan terhadap air. Lepas dari permasalah teknik pembuatan, Yunnas pun terus melaju memproduksi produk-produknya. Dari semula dikerjakan sendiri, kini memiliki empat karyawan sistem borongan yang siap membantunya dalam hal produksi.

Volume produksi pun kian meningkat. Dari semula hanya sepasang sandal yang dikenakannya sendiri merangkak naik menjadi 200-300 sepasang sandal dan 100-an tas tiap bulannya.

“Ada banyak model yang saya kembangkan, 10 model sandal dan 7 model tas yang mayoritas untuk cewek. Mengapa cewek? Karena wanita paling doyan dengan sandal dan tas, apalagi produknya unik dan eksklusif, sudah pasti mereka langsung tertarik,” katanya.

Tas Kertas "Dluwang"

Seiring makin meningkatnya pesanan dari pelanggan, Yunnas berhasil mengantongi omset berkisar Rp 5 juta sampai Rp 8 juta per bulan. Untung yang terbilang cukup besar mengingat biaya produksi yang relatif kecil, berkisar ratusan ribu rupiah.

“Biaya produksi paling banyak di pembelian kertas, lem, dan vernis. Kertas saya beli di tengkulak seharga Rp 1500/kg atau langsung di pemulung seharga Rp 1000/kg. Dua kilogram kertas bisa menjadi 3 pasang sandal dan satu tas ukuran sedang dengan harga Rp 20 ribu/pasang sandal dan Rp 15 ribu-Rp 75 ribu/tas. Biaya selebihnya untuk gaji pengrajin dan operasional sehari-hari,” terangnya.

Soal pemasaran, anak pertama dari tiga bersaudara ini berhasil menembus pasar melalui internet (online) baik dengan situs milik sendiri (dluwangart.com) maupun situs jejaring sosial semacam facebook. Maka tak heran bila karyanya tersebut jarang ditemui di toko-toko atau butik di wilayah Jogja.

Tapi justru dengan pemasaran online ini pihaknya mampu meraih pasar yang lebih luas mulai dari dalam hingga luar negeri. Jakarta dan Bandung menjadi langganan tetapnya dan beberapa kali dikirim ke Tanggerang, Palu, Padang, hingga Aceh serta pernah dikirim ke Spanyol atas bantuan temannya.

“Selain lewat internet, kami pun sering ikut dalam even-even pameran baik di dalam maupun luar Jogja. Tidak jarang pula kami diajak Pemkot Jogja untuk ikut pameran seperti yang belum lama ini kami ikuti di Jakarta. Hasilnya lumayan bagus, banyak yang minat pada Dluwang dan tidak sedikit yang langsung memesannya,” ungkapnya bangga.

Setelah melewati segala macam halang rintang, kini Yunnas sudah bisa mengambil buah dari jerih payahnya tersebut. Namun demikian, ia masih mempertahankan kesederhanannya terlihat dari rumah produksi sekaligus tempat tinggalnya yang masih mengontrak.

Tapi jangan salah, meski sudah terbilang sukses ia masih tetap low profile dan mau berbagi pengalaman pada orang lain termasuk soal trik usahanya. Maka tak jarang bila ia selalu memenuhi segala undangan menjadi pembicara di berbagai seminar kewirausahaan baik di kampus maupun di luar kampus dan membagi kisah suksesnya pada para peserta seminar yang kebanyakan mahasiswa.

“Sebenarnya saya malu harus berbicara soal kewirausahaan pada mahasiswa karena pada dasarnya saya pun masih menjadi mahasiswa. Tapi apa boleh buat demi kebaikan dan kemajuan bersama saya jalani itu semua. Lagi pula ini sesuai dengan visi saya, terus mengajak kepada generasi muda untuk berusaha dan bekerja meski itu berawal dari sampah,” paparnya.

Itulah sosok Yunnas, pemuda asal Ngawi Jawa Timur yang sukses berkat sampah kertas dan berhasil mengangkat image sampah dari yang tidak berguna menjadi bernilai ekonomis tinggi. (Asef F Amani)

(Dimuat Suara Merdeka, Senin-Selasa/28 Feb-01 Maret)

Usaha Jasa Rental Sepeda Onthel

Posted: Februari 24, 2011 in Catatan Bisnis

<Peluang Usaha>

Jasa Rental Sepeda Onthel

Minim Pesaing, Peluang Bisnis Menjanjikan

Rental Sepeda Onthel

USAHA rental sepeda motor, mobil, atau rental film sudahlah biasa. Tapi bagaimana dengan rental sepeda? Ya, mungkin agak terdengar aneh. Sebab, jenis usaha ini belum familiar di telinga kebanyakan orang. Usaha ini pun belum banyak berdiri di tengah masyarakat dan perkembangannya juga tidak secepat usaha rental yang lain.

Belum banyak inilah yang justru menjadi peluang bisnis sendiri terutama di kota-kota yang unsur budayanya masih kental seperti Jogjakarta, Bandung, atau Bali. Pasalnya, kota dengan unsur tradisionalnya yang kental, berpotensi besar untuk tumbuh kembang usaha rental sepeda terutama sepeda tua sejenis Onthel.

Peluang inilah yang coba ditangkap oleh Pramono (60) dengan mendirikan perusahaan rental sepeda Onthel di Jogjakarta. Warga asli Magelang ini baru 1,5 tahun merintis usaha tersebut dan Jogja dipilih sebagai pilot project mengingat Jogja sebagai kota tujuan wisata utama kedua di Indonesia setelah Bali.

Sayangnya, usahanya ini belum memiliki nama dan belum diluncurkan serta belum untuk konsumsi masyarakat luas. Selama ini, yang menggunakan jasanya masih dari kalangan terbatas. Namun, ia memastikan sekitar 1-2 bulan ke depan, bisnisnya ini siap dipublish dan siap melayani masyarakat secara lebih luas.

“Semoga tidak ada kendala berarti, usaha ini akan saya publikasikan segera. Sekarang masih try and error sekaligus menjajal pasar sambil terus menambah armada sepeda Onthelnya. Saya optimis usaha ini akan mudah diterima pasar,” ujarnya saat ditemui di kediamannya Jl Letjend Sarwoedi Magelang.

Pria kelahiran Magelang 24 Desember 1950 ini menjelaskan, ketertarikannya berbisnis ini karena melihat peluang yang belum banyak dilirik orang. Memang ada beberapa yang sudah menjajal jasa ini, tapi dinilainya kurang memuaskan karena sepeda yang digunakan terkesan asal-asalan.

Sementara, dirinya mengklaim semua sepeda Onthelnya tampil prima dan fresh serta tetap mempertahankan keantikannya. Sepeda tua yang usianya sekitar 60 tahun dibelinya dari pedagang atau kolektor di seluruh Indonesia lalu diperbaiki bagian-bagian yang rusak. Tidak sedikit yang diganti dengan spare part NOS (New Old Stok) alias stok lama yang tidak terpakai sehingga masih terbilang baru.

Barang yang sudah diperbaiki lalu dicat menjadi beberapa warna seperti hijau muda, hitam polos, coklat muda, dan perpaduan warna hitam dan merah. Sepeda tua berbagai merek seperti Gazelle, Raleigh, Simplek, Batavis, dan lain sebagainya disulap menjadi lebih fresh dan menarik perhatian mata.

Petani Jarak di Gunung Kidul ini mengaku, ia sudah menyelesaikan sekitar 300 sepeda yang dikenal juga dengan istilah “Pit Unto” ini. “Sepeda sebanyak itu, sudah siap melenggang di jalanan raya Jogjakarta yang digunakan baik oleh para wisatawan maupun masyarakat umum,” katanya bangga.

Ratusan ribu rupiah ia keluarkan untuk membeli sepeda tua ini. Lalu tidak kurang dari Rp 1 juta dihabiskan untuk mereparasi dan merestorasi sepeda ini per unitnya. Apa yang telah dikeluarkannya memang sebanding dengan keluaran yang memuaskan, menjadi sepeda tua yang tampil prima, fresh, dan menarik perhatian mata siapa saja.

“Saya tidak akan menjualnya sekalipun ditawar dengan harga tinggi. Saya hanya akan menyewakannya (rental) kepada siapa saja yang berminat. Saya ingin kembalikan fungsi semula sepeda ini sebagai alat transportasi yang nyaman dan aman, bukan sebagai barang kolektor,” tegasnya.

Rental Sepeda Onthel

Meski  masih dalam tahap perintisan usaha, Pramono mengaku sekitar 300 sepeda yang telah jadi sudah sering disewa oleh beberapa instansi baik di Jogja maupun di Magelang sendiri. Sebut saja misalnya UGM dan Rokok Sampoerna yang menyewa sejumlah sepeda miliknya untuk kegiatan para karyawannya.

“Dibilang unik, iya. Kalau biasanya karyawan korporat sukanya berkegiatan outbond atau rafting, mereka (UGM dan Sampoerna, red) meminjam sepeda di kita dan digunakan untuk kegiatan refreshing mereka sekaligus sebagai keakraban atau gathering antarkaryawan,” jelasnya.

Ini baru contoh. Bapak yang juga pengusaha restoran ini mengemukakan, ke depan ia akan menyasar pasar lebih luas lagi. Hotel adalah salah satunya karena industri perhotelan sangat dekat dengan dunia pariwisata yang menjadi tujuan utamanya.

Pria yang juga petani Jarak di Gunung Kidul ini menuturkan, pihaknya akan menggandeng sejumlah hotel di Jogja sebagai mitra dengan sasaran penggunanya para tamu hotel. Para tamu, katanya diprediksi akan sangat antusias menyambut jasanya ini karena bisa menjadi nilai lebih (value added) baik bagi hotelnya sendiri maupun Jogja sebagai kota tujuan wisatanya.

“Siapa saja bisa meminjam sepeda Onthel ini dengan tarif cukup murah. Sementara ini, kami terapkan tarif 1 Dolar selama sehari (One Dolar a Day) atau sekitar Rp 8000-Rp 9000,” ungkapnya seraya menambahkan akan ditaruh sepeda tua antara 4-5 unit tiap hotel.

Biaya reparasi dan restorasi sepedanya sendiri berkisar Rp 1 juta per unit. Itu bukan seberapa seandainya usahanya ini benar-benar disambut hangat masyarakat. Dengan visi turut mengembangkan dunia pariwisata sambil tetap sehat dan menjaga lingkungan, ia optimis usahanya ini akan disambut antusias.

Selain hotel, ia pun akan menggandeng juga tempat-tempat wisata yang mana fasilitas rental sepeda ini sebagai pelengkap fasilitas objek wisata tersebut. Sasaran ini, katanya tidak lain tidak bukan dengan tujuan memberikan pengalaman berbeda kepada para wisatawan saat berwisata ke Jogja sambil tetap sehat dan mendukung langkah go green.

“Berkeliling kota Jogja tentu akan sangat berkesan ketika dinikmati dengan bersepeda. Bangunan kuno yang masih banyak berdiri dapat leluasa dinikmati sambil genjot sepeda. Apalagi sepeda yang digunakan termasuk sepeda kuno, tentu ini adalah pengalaman sendiri bagi penggunanya,” paparnya.

Meski usahanya terbilang belum berjalan, ia memiliki banyak impian yang tidak sabar untuk segera diwujudkan. Salah satunya, ia akan mengembangkan usahanya ini menjadi bermacam-macam seperti paket foto prewedding, paket wisata sepeda dengan berseragam busana ala jaman dulu, dan segudang impian lainnya termasuk memperlebar pasar ke Pulau Dewata Bali.

“Tapi itu nanti, sekarang kita ingin fokus dulu untuk segera meluncurkan jasa rental sepeda ini karena sudah banyak yang mengantri. Bisa dibilang persiapan mendekati seratus persen. Sepeda yang sudah siap, segera dibawa ke Jogja dan kita akan jalin kerja sama dengan sejumlah hotel di Jogja termasuk juga tempat-tempat pariwisatanya,” ungkapnya.

 

(Asef F Amani)

 

 

Bisnis Fashion Anak-anak

Cintai Anak-anak dengan Mencipta Busana “Kenes”

 

BERAWAL dari kecintaan pada anak-anak, mendorong keinginan Harlina Dyah Wijayanti (35) untuk dapat memberikan yang terbaik pada mereka. Bukan sebuah hadiah atau barang kenang-kenangan yang ingin diberikannya, tapi suatu karya kreatif yang sangat bermanfaat bagi anak-anak terutama untuk keseharian mereka, yakni busana.

Dia mengakui memang sudah banyak busana anak-anak yang beredar di pasaran mulai dari berharga murah sampai mahal. Tapi apa yang kemudian mengusiknya untuk turut menambah semarak aneka jenis busana anak-anak tersebut?

“Saya melihat bahwa banyak dari pakaian anak-anak tersebut tidak sesuai dengan karakter mereka sendiri. Artinya, banyak dari busana tersebut bersifat dewasa baik modelnya maupun bahan yang digunakan sehingga tidak cocok jika dikenakan pada anak-anak,” ujarnya saat ditemui di showroom terbarunya yang bernama Kenes Jogja di area Ambarrukmo Plaza Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Untuk itu, wanita yang akrab disapa Nina ini ingin terjun dalam dunia fashion anak-anak dengan tujuan memberikan alternatif pilihan busana anak-anak yang cocok dengan tubuh anak-anak. Bahan yang sangat lembut dengan dipadu motif khas anak-anak, ia mengklaim bahwa busana karyanya ini sangat pas dengan anak-anak mulai usia 6 bulan sampai 12 tahun.

Adapun karyanya tersebut berbahan 100 persen katun yang nyaman dan lembut dengan motif khas anak-anak dan warna-warna yang cerah serta girly. Proses pembuatan menggunakan teknik patchwork atau teknik sambung kain dari motif katun berbeda menjadi satu. Aplikasi teknik ini dinilai dapat memaksimalkan penggunaan bahan kain sehingga sangat sedikit kain yang tersisa dan terbuang.

Di samping itu, wanita kelahiran Jepara 3 Mei 1975 ini pun melihat bahwa prospek bisnis fashion masih sangat potensial baik di pasar lokal Jogja maupun nasional bahkan internasional. Ini karena bisnis fashion dinilai tidak ada matinya, bahkan terus berkembang mengikuti perubahan jaman. Terbukti dari makin maraknya showroom busana di wilayah Jogja mulai dari anak-anak hingga dewasa dan orang tua.

“Karenanya, saya sangat optimis produk saya ini dapat diterima pasar secara luas. Apalagi, karya ini berbeda dari kebanyakan busana anak-anak lainnya,” katanya optimis.

Kenes Jogja yang berarti centil atau kemayu menjadi produk pertamanya sejak ia terjun ke dunia fashion November 2010 lalu. Sebelumnya, ia hanya sebagai karyawan atau pegawai kantoran yang masih dekat dengan dunia anak-anak. Melihat ada peluang terbuka di depan mata, ia pun memberanikan diri keluar sebagai pegawai dan menjalankan usaha mandiri bersama teman sejawatnya, Prastiwi Ariani (28) yang bergerak di dapur produksi.

“Mungkin bisa dibilang saya bosan jadi pegawai dan ingin menjalankan usaha sendiri secara mandiri. Lagipula saya ingin konsentrasi pada keluarga, mengurus anak dan suami sambil tetap berkreasi,” papar alumnus Fakultas Hukum UGM ini.

Awal produksi dan pemasaran, berhasil dilalui dengan mudah. Modal sebanyak Rp 20 juta ia belanjakan membeli bahan baku dan alat seperti mesin jahit dan obras. Sementara akses pemasaran memanfaatkan kemajuan teknologi yakni internet atau penjualan secara online selain juga memanfaatkan jaringan sosial masyarakat di lingkungan sekitar.

“Tidak dinyana, antusias cukup menggembirakan, banyak orang tertarik dan berminat terhadap karya kami. Baik online maupun offline masing-masing berjalan bagus. Tidak kurang dari 15 pcs busana anak-anak diproduksi tiap hari atau sekitar 30 pcs per minggu dengan harga per potong berkisar Rp 70-120 ribu,” ungkapnya seraya menambahkan model yang diproduksi bersifat terbatas atau istilah fashionnya limited edition.

Dari kapastias produksi sebanyak itu, ibu dua putra ini mampu meraup omset sekitar Rp 30-35 juta per bulan. Setelah lebih dari dua bulan berjalan, ia dan juga parternya, Tiwi memberanikan diri ekspansi pasar dengan membuka showroom di Amplaz Jogja dengan harapan lebih banyak masyarakat yang mengetahui produknya.

“Karena masih terbilang baru, kita pun masih akan terus berinovasi mengikuti tren yang sesuai dengan dunia anak-anak. Ke depan, kita juga akan mencoba merambah dunia aksesoris yang tentunya juga sesuai dengan karakter anak-anak,” ungkapnya. (Asef F Amani)

 

(Dimuat di Suara Merdeka, 5 Februari 2011)