Archive for the ‘Cerpenku’ Category

Nyanyian Burung

Posted: September 8, 2008 in Cerpenku
Tag:,

 Nyanyian Burung

NYANYIAN BURUNG

Oleh: Asef F. Amani

            Sayup-sayup terdengar jerit indah burung berkicau dari arah luar jendela kamarku dan istriku. Suaranya yang merdu diterbangkan angin menembus jendela kamarku dan merasuk ke dalam gendang telingaku. Akupun tersentak bangun, tak ada bunyi yang keluar dari bibirku, tak ada uap yang keluar dari rongga mulutku, hanya seuntai senyum yang tampak dari wajahku. Dengan mata yang perlahan kembali terpejam aku mencoba menyelami nyanyian burung itu. Ada makna yang dalam yang aku rasakan dari nyanyian mereka, sungguh damai hati ini medengar mereka bernyanyi. Dari kepakan kedua sayapnya menimbulkan nyanyian daun yang merdu yang menambah damai suasana pagi ini, mentari pun tertarik untuk mengintip mereka dari balik awan putih, dengan cahayanya yang merekah keemasan menambah suasana pagi ini begitu romantis.

“Sayang untuk dilewatkan!” bisikku pada diri sendiri.

            Lambat laun mereka tampak ramai bertambah satu demi satu, mereka meloncat riang dari dahan satu ke dahan yang lain, daun pun terus ikut bernyanyi. Tak sabar aku membangunkan istriku yang masih begitu terlelap tidur di sampingku.

            “Sayang, bangun dan lihatlah mereka bernyanyi, begitu riang bergembira menyambut pagi ini!” bisikku pada telinga istriku dengan lembut.

“Tak ada gurat perih sedih yang tampak dari wajah mereka”, lanjutku.

            Sedikit demi sedikit mata indah istriku mulai merekah siap menyambut pagi dan menatap birunya langit dan tentunya melihat burung-burung itu.

            Sambil tersenyum manis, istriku berkata, “Makasih sayang, nyanyiannya memang sangat indah, sehingga aku tak kuasa untuk beranjak dari tidurku!” bisiknya di telingaku sambil memeluk mesrah punggungku. Rupanya istriku sejak dari tadi memang sudah terjaga dari tidur lelapnya dan mendengarkan nyanyian burung-burung itu, walau terlihat seperti masih terlelap karena kelelahan semalam.

            Kami berdua masih terpaku di atas ranjang mendengarkan mereka bernyanyi riang gembira. Aku dan istriku tak mau melewatkan sedikitpun dari syair yang mereka nyanyikan itu, karena aku dan istriku yakin bait demi bait mengandung makna yang sungguh dalam dan mengandung pesan penting untuk kehidupan di dunia ini. Lama aku dan istriku mendengarkannya, akhirnya tertarik juga untuk berdendang bersama mereka, dengan lirih aku dan istriku ikut berdendang bernyanyi. Kemudian aku dan istriku beranjak mendekat ke bibir jendela dan membukanya perlahan-lahan takut kalau mereka akan memergoki aku dan istriku dan akan berhenti bernyanyi, aku dan istriku pun mendengar mereka bernyanyi lebih jelas dan jernih sejernih embun pagi hari.

            Pandanganku dan istriku tertuju pada sebatang pohon tepat di depan jendela kamarku, daunnya begitu lebat berwarna hijau subur, kalau siang sungguh rindang untuk bercengkrama bermain dengan anak-anak. Hawa sejuk langsung menyergap tubuhku dan istriku yang kala itu hanya dibalut dengan baju tidur yang tipis, langsung merasuk ke dasar tulang dan refleks aku dan istriku menggigil seketika, aku dan istriku saling berpandangan dan saling tersenyum dan melingkarkan tangan ke dada masing masing.

            “Sayang, udara pagi ini begitu sejuk dan segar, ya?” bisik istriku sambil memeluk tubuhku untuk sekadar menghangatkan badan.

            Semalam memang turun hujan lebat sekali, tiupan angin begitu kencang sampai-sampai daun-daun, dahan-dahan dari pohon di depan jendela kamarku beterbangan masuk ke kamar. Tak ketinggalan pula gunturnya pun begitu dahsyat mengglegar, lidah api begitu terang benderang menyambar segala yang ada di permukaan bumi. Sehingga paginya pun hawa terasa sejuk, dedaunan begitu hijau, bunga-bunga di taman indah merekah, lebah-lebah panen raya serbuk sari dari bunga-bunga itu, tetesan embun yang bening jernih mengalir dari ujung-ujung daun pun ikut serta menghiasi indahnya pagi ini, sinar mentari pun perlahan menembus barisan awan putih yang berjejer di langit yang cerah kebiru-biruan.

            Sambil berpelukan kami melanjutkan mendengar nyanyian burung-burung itu, tak terasa aku dan istriku mengikuti irama nyanyian itu, dengan gerak kecil-kecil tubuhku dan istriku tergerak mengikuti alunan merdu nyanyian itu, aku dan istriku pun berdansa lembut, bergeser ke kanan, ke kiri, berputar, melangkah ke depan, ke belakang, aku dan istriku pun tenggelam dalam alunan merdu itu.

 

Di cerlang matamu

            Kulihat pagi bangkit berseri

            Mencairkan kembali hidupku yang beku

            Wahai, merdunya burung berkicau

            Meloncat-loncat dari dahan ke dahan

            Bernyanyi sorak sorai dalam hatiku1

 

Silir-silir terdengar di telingaku sebuah puisi yang sangat indah. Ternyata istriku dengan lirih membacakan sebuah puisi karya Rachmat Djoko Pradopo yang berjudul “Di Cerlang Matamu” yang ia baca kemarin sore di teras rumah. Rupanya istriku tidak hanya membacanya, tapi juga sedikit demi sedikit dihafalnya, seperti puisi yang dibacanya barusan tepat di depanku.

            “Sayang, indah sekali puisi itu, mungkin saat itu sang pengarangnya berada tepat seperti kita saat ini,” bisikku di telinga istriku sambil masih berdansa mesrah.

            Memang aku dan istriku saling berbisik, karena takut akan terlewatkan merdunya nyanyian burung-burung itu dan takut kalau-kalau burung-burung itu pun takut dan terbang berpindah tempat dan terutama aku dan istriku takut kalau burung-burung itu tak lagi bertengger di pohon itu dan bernyanyi setiap pagi.

            Kami kembali tenggelam dalam alunan musik alam dan naynyian burung-burung itu, kami pun terlarut  dalam hangatnya cinta kasih kami, berpeluk mesrah di pagi hari yang cerah. Benar-benar membuat seolah-olah pagi ini bahkan dunia ini hanya milik aku dan istriku serta burung-burung itu.

            “Sayang, aku mencintaimu, seperti burung-burung itu mencintai pagi ini!” bisikku perlahan penuh kemesrahan dan kasih sayang.

 

                                                                                    Yogyakarta, 08 Februari 2007

 

Catatan:

[1]  Diambil dari kumpulan puisi “Aubade” karya Rachmat Djoko Pradopo dengan judul “Di Cerlang Matamu”. Hlm. 1 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Iklan